Rumah-Rumah yang Tak Pernah Mendengar Adzan ‎

‎"Bukit dapat membatasi pandangan manusia, tetapi semestinya tidak membatasi sebuah panggilan menuju Tuhan." 
Di sebuah desa yang dikelilingi perbukitan di Kecamatan Batu Putih, Kabupaten Kolaka Utara, kehidupan berjalan dalam ritme yang tenang. Pagi dimulai dengan langkah warga menuju kebun, siang diisi aktivitas anak-anak di sekolah, dan sore perlahan ditutup dengan suasana yang nyaris tanpa hiruk-pikuk. Jauh dari keramaian kota, masyarakat menggantungkan hidup pada alam sekaligus menjaga tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi.

‎Di desa itu berdiri satu-satunya masjid yang menjadi pusat kehidupan keagamaan masyarakat. Dari sanalah adzan dikumandangkan lima kali sehari, anak-anak belajar membaca Al-Qur'an, dan warga berkumpul dalam berbagai kegiatan keagamaan.

‎Di masjid itulah kami mengenal seorang lelaki yang oleh warga cukup dipanggil Pak Imam. Tidak ada gelar yang melekat pada namanya. Tidak pula jabatan yang membuatnya dikenal luas. Seusai bekerja di kebun, beliau kembali ke masjid untuk membersihkan lantainya, membuka pintunya, mengumandangkan adzan, lalu mendampingi anak-anak mengaji. Kesederhanaan menjadi cara beliau mengabdi.

‎Melalui berbagai percakapan dengannya, kami mulai memahami kehidupan masyarakat. Anak-anak secara bergantian mengikuti kegiatan mengaji selepas salat Zuhur. Tiga hari dalam sepekan kegiatan itu berlangsung di masjid, sementara tiga hari berikutnya dilaksanakan di sekolah dasar. Pada setiap Senin pagi, para ibu mengikuti pengajian rutin sebagai ruang belajar agama sekaligus mempererat silaturahmi.

‎Semangat itu menunjukkan bahwa kehidupan keagamaan masih tumbuh dengan baik. Namun, beberapa hari berada di desa tersebut menghadirkan pengalaman yang tidak pernah kami bayangkan sebelumnya.

‎Kami beberapa kali terlambat menuju masjid.

‎Bukan karena tidak mengetahui waktu salat, melainkan karena tidak pernah mendengar adzan.

‎Pada mulanya kami mengira penyebabnya hanyalah jarak. Akan tetapi, setelah berbincang dengan Pak Imam dan pemerintah desa, kami mengetahui kenyataan yang sesungguhnya. Kontur wilayah yang dikelilingi perbukitan membuat suara adzan tidak mampu menjangkau sebagian besar permukiman warga. Keadaan itu diperparah oleh belum adanya menara pada masjid yang menjadi pusat ibadah masyarakat.

‎Fakta tersebut terasa sederhana, tetapi menyimpan makna yang dalam. Selama ini kami menganggap suara adzan adalah sesuatu yang pasti hadir di setiap lingkungan. Ternyata, ada tempat-tempat di negeri ini yang tidak memiliki kemewahan itu. Bukan karena masyarakatnya mengabaikan ibadah, melainkan karena kondisi geografis membatasi jangkauan suara.

‎Masjid itu melayani masyarakat dari lima dusun yang letaknya saling berjauhan. Di antara rumah-rumah warga terbentang kebun, jalan tanah, dan perbukitan yang menjadi ciri khas wilayah tersebut. Ketika azan dikumandangkan, tidak semua warga dapat mendengarnya. Sebagian baru mengetahui waktu salat setelah melihat jam, sebagian lagi mengikuti aktivitas orang di sekitarnya.

‎Di titik itu kami memahami bahwa sebuah menara bukan semata elemen arsitektur masjid. Bagi masyarakat desa seperti ini, menara adalah sarana yang memungkinkan panggilan salat menjangkau lebih banyak orang. Ia bukan sekadar bangunan yang menjulang tinggi, melainkan penghubung antara suara muazin dan masyarakat yang selama ini dipisahkan oleh bentang alam.

‎Pengalaman tersebut menghadirkan pelajaran sederhana. Pembangunan sering kali dipahami sebagai jalan, jembatan, atau gedung-gedung yang megah. Padahal, ada kebutuhan lain yang tidak kalah penting: memastikan bahwa ruang-ruang kehidupan sosial dan spiritual masyarakat dapat terus tumbuh dan terlayani.

‎Di banyak tempat, adzan menjadi suara yang begitu akrab hingga nyaris tidak lagi disadari keberadaannya. Ia hadir setiap hari, terdengar dari berbagai arah, dan menjadi penanda datangnya waktu salat. Namun, berada di desa ini membuat kami menyadari bahwa tidak semua orang memiliki pengalaman yang sama. Ada mereka yang harus mengandalkan jam tangan karena suara adzan tidak pernah sampai ke rumahnya.

‎Barangkali, dari kejauhan, sebuah menara hanya tampak sebagai susunan beton yang menjulang ke langit. Namun, bagi masyarakat di desa ini, menara adalah harapan agar panggilan yang sama dapat didengar oleh semua, tanpa terhalang bukit, tanpa dipisahkan oleh jarak.

‎Sebab adzan bukan sekadar suara. Ia adalah penanda waktu, pengikat kebersamaan, dan panggilan yang semestinya menemukan jalan menuju setiap rumah. Ketika adzan berhenti di balik bukit, yang sesungguhnya sedang diuji bukan hanya jangkauan suara, melainkan perhatian kita terhadap mereka yang hidup jauh dari pusat-pusat.

Penulis: Abrar Husairi

Lebih baru Lebih lama