Menuju Hardiknas: Catatan Kritis untuk Mahasiswa dan Dosen


Author: Muh. Farhan Ridwan 
Ketua Umum PC IMM Kolaka Utara 

KATALISATOR, OPINI — Hari Pendidikan Nasional seharusnya bukan sekadar seremoni tahunan bukan hanya upacara, spanduk, dan ucapan formalitas. Ia adalah momentum refleksi: sejauh mana pendidikan benar-benar membebaskan, atau justru semakin menjauh dari esensinya.

Untuk Mahasiswa: Kehilangan Daya Kritis

Mahasiswa hari ini sedang berada di persimpangan. Di satu sisi, mereka disebut sebagai “agent of change”, namun di sisi lain perlahan kehilangan keberanian untuk bersuara. Kampus yang seharusnya menjadi ruang dialektika, justru berubah menjadi ruang kompetisi angka—IPK, SKS, dan kelulusan cepat.

Doktrin “lulus tepat waktu” telah menggeser orientasi pendidikan. Mahasiswa lebih sibuk mengejar nilai daripada makna. Lebih takut terlambat wisuda daripada terlambat berpikir. Akibatnya, daya kritis tumpul, kepekaan sosial menurun, dan keberpihakan terhadap rakyat menjadi kabur.

Jika mahasiswa hanya menjadi produk administratif kampus, lalu siapa yang akan menjadi kontrol sosial? Jika mahasiswa diam, maka ketidakadilan akan berbicara lebih lantang.

Untuk Dosen: Antara Pendidik dan Administrator Akademik

Dosen bukan sekadar pengajar, melainkan pendidik yang membentuk cara berpikir. Namun realitas hari ini menunjukkan banyak dosen terjebak dalam rutinitas administratif—target publikasi, akreditasi, dan beban birokrasi—hingga lupa bahwa esensi pendidikan adalah membangun manusia, bukan sekadar memenuhi indikator.

Lebih ironis lagi, dalam beberapa kasus, dosen justru menjadi bagian dari sistem yang membungkam mahasiswa. Kritik dianggap ancaman, bukan kontribusi. Perbedaan pendapat dipersempit, bukan dirawat.

Jika dosen kehilangan keberpihakan pada kebenaran dan kebebasan berpikir, maka kampus hanya akan menjadi pabrik gelar—bukan ruang lahirnya intelektual.

Pendidikan yang Kehilangan Arah
Pendidikan hari ini sedang mengalami krisis orientasi. Ia terlalu sibuk menyesuaikan diri dengan pasar, tetapi lupa membangun karakter. Terlalu fokus pada output, tetapi lalai pada proses. Terlalu menekankan kompetisi, tetapi mengabaikan kolaborasi dan empati.

Padahal, pendidikan sejatinya adalah proses memanusiakan manusia—bukan sekadar mencetak tenaga kerja.

Penutup: Kembali ke Esensi

Menuju Hardiknas, kita perlu bertanya dengan jujur:
Apakah kampus masih menjadi ruang pembebasan?
Apakah mahasiswa masih berani berpikir dan melawan?
Apakah dosen masih setia pada nilai-nilai keilmuan dan kemanusiaan?
Jika jawabannya mulai kabur, maka inilah saatnya untuk kembali.
Mahasiswa harus kembali pada idealismenya.

Dosen harus kembali pada tanggung jawab moralnya.

Dan kampus harus kembali menjadi rumah bagi kebenaran.
Karena pendidikan yang kehilangan keberanian untuk jujur, hanya akan melahirkan generasi yang patuh—bukan generasi yang berpikir.

Ing ngarso sung tulodo, ing madya Mangun Karso, tutwuri Handayani.
Didepan memberi teladan, ditengah memberi semangat, dibelakang memberi dorongan.
Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak