Aku dan Ikatan Pelajar Muhammadiyah


Author: Akbar Pelayati, S.Ag
Orang yang Pernah Nyaris Jadi Kader IPM

KATALISATOR — Akhir-akhir ini, setiap kali melintas di beberapa titik jalan di Kota Lasusua, Kabupaten Kolaka Utara, terasa ada yang berbeda. Jika biasanya jalanan didominasi oleh bendera-bendera partai politik, kini justru dipenuhi oleh bendera berwarna kuning yang tersebar di sepanjang Jalan Baypass, bundaran kepala, dan berbagai titik lainnya.

Warna kuning itu terasa begitu akrab. Setelah kuperhatikan lebih saksama, ternyata pada kain tersebut terpatri logo Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM).

Pemandangan itu seketika membangkitkan ingatan lama, sebuah fase dalam hidupku yang pernah bersinggungan dengan organisasi pelajar berwarna kuning tersebut.

Sekitar tahun 2018, saat lulus dari Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan melanjutkan ke Madrasah Aliyah (MA), seorang kerabat mengajakku mengikuti sebuah kegiatan yang disebutnya sebagai kegiatan keagamaan.

Anehnya, aku diminta membawa perlengkapan mandi dan pakaian ganti. Setibanya di lokasi, barulah kusadari bahwa aku dibawa ke sebuah kegiatan Pelatihan Kader Taruna Melati (TM), yang merupakan gerbang awal untuk masuk ke IPM.

Pada awalnya, aku merasa kesal karena seolah “dijebak” untuk ikut serta. Namun karena sudah terlanjur hadir, aku pun mengikuti rangkaian kegiatan dari awal hingga malam hari.

Salah satu momen yang paling membekas adalah ketika seorang perempuan mungkin panitia atau senior memarahi peserta yang tidak tertib sambil memukul palu sidang dengan tegas. Suasana terasa menegangkan.

Selama kegiatan, kami menerima berbagai materi, mulai dari retorika hingga materi ke-IPM-an yang kini sudah samar dalam ingatanku. Namun, karena kehadiranku bukan atas kemauan sendiri, muncul kegelisahan tersendiri. Terlebih lagi, saat itu aku sedang mengalami alergi yang mengharuskanku rutin menggunakan salep dan obat. Sementara aturan panitia cukup ketat dan tidak mengizinkanku pulang.

Beberapa peserta bahkan memilih melarikan diri dari lokasi pengkaderan. Aku sendiri berada pada titik yang cukup berat, terutama saat mengikuti salah satu materi inti jika tidak salah tentang ketauhidan.

Pada sore hari, kami diminta memecahkan kaca di dalam sebuah lubang, dan pada malam harinya diperintahkan untuk melompat ke dalamnya sebagai simbol penguatan keyakinan. Ketika giliranku tiba, aku memilih untuk tidak melompat karena rasa takut yang tidak bisa kuabaikan. Akibatnya, aku dinyatakan tidak lulus dalam tahapan tersebut, meskipun masih diperbolehkan mengikuti materi lainnya.

Keesokan harinya, kami diajarkan sebuah salam pembuka: “Nun walqalami wama yasturun,” yang menjadi slogan khas IPM. Namun, pada akhirnya aku tidak pernah dibaiat menjadi kader. Pada malam-malam terakhir kegiatan, aku memutuskan untuk kabur bersama seorang kawan bernama Iswaldi.

Beberapa waktu kemudian, kerabat yang sebelumnya mengajakku sempat mencoba menjemputku kembali, tetapi kondisi kesehatanku menjadi alasan untuk tidak melanjutkan. Sementara itu, Iswaldi kembali ke lokasi dan resmi dibaiat sebagai kader IPM.

Akhirnya, dapat kukatakan bahwa secara administratif aku bukanlah kader IPM, hanya seseorang yang pernah nyaris menjadi bagian darinya.

(*)

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak