Organisasi Bukan Panggung Dendam Pribadi

Keterangan Gambar: Akbar Pelayati memakai peci HMI






BOMBAS INDONESIA Salah satu tantangan terbesar dalam berorganisasi bukanlah persoalan eksternal, melainkan internal. Bukan lawan yang datang dari luar, tetapi penyakit yang tumbuh dari dalam tubuh organisasi itu sendiri. Penyakit itu bernama “membawa masalah personal ke dalam organisasi.” Ia adalah virus yang pelan-pelan tapi pasti melemahkan daya hidup organisasi.

‎Banyak orang gagal memahami bahwa organisasi adalah ruang profesional, bukan panggung untuk melampiaskan kebencian pribadi. Ketika seseorang tidak menyukai individu lain, lalu ia menyeret kebencian itu ke forum-forum resmi organisasi, dampaknya jauh lebih buruk daripada sekadar konflik personal. Ia mulai menjelek-jelekkan, menyebarkan prasangka, bahkan menghasut anggota lain agar ikut membenci. Maka organisasi pun terbelah: bukan lagi atas dasar gagasan, tapi karena dendam pribadi yang dibungkus rapat-rapat.

‎Masalah ini menunjukkan satu hal: ketidakdewasaan. Orang yang belum mampu memisahkan ranah personal dan organisasi sejatinya belum siap berorganisasi. Sebab berorganisasi menuntut kedewasaan emosional mampu mengendalikan ego, mengutamakan visi kolektif, dan menundukkan kepentingan pribadi demi kepentingan bersama. Tanpa itu, organisasi hanya akan menjadi arena drama, tempat di mana perasaan lebih berkuasa daripada pikiran, dan dendam lebih kuat daripada visi.

‎Kita sering menyaksikan organisasi yang mati bukan karena tidak ada program kerja, bukan karena dana terbatas, dan bukan pula karena kurangnya dukungan masyarakat. Banyak organisasi mati muda karena racun internal yang dibiarkan menjalar: gosip, fitnah, saling menjatuhkan, dan membawa konflik personal ke ranah organisasi. Sehebat apa pun struktur dan sehebat apa pun kurikulum kaderisasi, jika orang-orangnya masih terjebak pada urusan pribadi, organisasi tidak akan pernah maju.

‎Karena itu, kita perlu menegaskan kembali makna berorganisasi. Organisasi bukan tempat menonjolkan diri, apalagi menebar kebencian. Ia adalah wadah kolektif untuk belajar menjadi manusia yang lebih matang, baik secara intelektual maupun emosional. Profesionalisme adalah syarat mutlak: hadir tepat waktu, menyelesaikan tugas dengan tanggung jawab, menjaga komunikasi secara sehat, dan yang paling penting meninggalkan ego pribadi di depan pintu sebelum memasuki ruang organisasi.

‎Hanya dengan cara itu organisasi bisa tumbuh sehat. Jika tidak, organisasi akan terus terjebak pada lingkaran konflik personal yang tidak ada habisnya. Dan jika itu yang terjadi, jangan salahkan siapa-siapa ketika organisasi kehilangan wibawa, kehilangan arah, dan perlahan mati. Sebab pada akhirnya, yang membunuh organisasi bukan musuh dari luar, tetapi kita sendiri yang gagal dewasa di dalamnya.

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak