RAMADHAN, KATALISTOR - Dalam banyak percakapan, puasa ditempatkan sebagai urusan spiritual yang kebetulan melibatkan tubuh. Tubuh dianggap sekadar medium yang utama tetap batin. Asumsi ini membentuk hierarki bahwa yang fisik dinilai rendah, yang mental dan rohani dinilai tinggi.
Walhasil, pengalaman lapar, lelah, dan penurunan energi sering diperlakukan sebagai gangguan teknis terhadap tujuan yang lebih “mulia”. Cara pandang semacam ini membuat tubuh hadir hanya sebagai alat, bukan sebagai sumber pengetahuan.
Ada pendekatan berbeda yang memandang tubuh bukan sekadar sarana, tetapi sebagai ruang belajar. Ketika asupan dihentikan dalam batas waktu tertentu, tubuh tidak sekadar mengalami kekurangan; tubuh mengirimkan sinyal, mengubah ritme, menata ulang energi. Pikiran tidak bisa mengabaikan perubahan tersebut. Konsentrasi bergeser, emosi lebih mudah terusik, kesabaran diuji secara konkret. Dari sini tampak ketegangan konseptual: apakah puasa hendak mengatasi tubuh, atau justru membaca ulang hubungan antara tubuh dan kesadaran?
Jika puasa dipahami sebagai upaya menundukkan tubuh, maka struktur berpikirnya cenderung dualistik. Tubuh ditempatkan sebagai lawan yang harus dikontrol agar batin menang. Secara logis, model ini berisiko melahirkan sikap curiga terhadap kebutuhan jasmani. Padahal, tanpa tubuh, tidak ada pengalaman religius apa pun. Sebaliknya, ketika tubuh dipahami sebagai mitra belajar, pikiran tidak lagi berfungsi sebagai penguasa, tetapi sebagai penafsir pengalaman yang sedang berlangsung. Lapar, lelah, dan perubahan ritme menjadi bahan pembacaan, bukan musuh yang harus dibungkam.
Konsekuensinya cukup jauh. Pendidikan batin yang mengabaikan tubuh cenderung abstrak dan mudah berubah menjadi slogan. Sementara pendidikan yang berangkat dari pengalaman fisik menuntut kejujuran yang lebih konkret. Rasa letih menjelang sore, misalnya, membuka pertanyaan tentang batas daya tahan; perubahan suasana hati menguji kedewasaan dalam merespons orang lain. Pikiran belajar bukan melalui teori yang jauh, tetapi melalui interaksi langsung dengan kondisi jasmani yang sedang berubah.
Saya melihat bahwa puasa memperlihatkan kesatuan yang sering terabaikan, tubuh dan pikiran bergerak dalam satu lanskap pengalaman. Ketika tubuh dibatasi, pikiran dipaksa menata ulang prioritas. Tidak semua keinginan perlu segera dipenuhi; tidak semua ketidaknyamanan harus dihindari. Dari pengalaman ini, lahir pemahaman yang lebih rendah hati tentang diri bahwa kedalaman berpikir tidak berdiri di atas penyangkalan tubuh, tetapi tumbuh bersama pengakuan atas keterbatasannya.
Hari keempat menghadirkan pelajaran yang tenang, bahwa tubuh yang berpuasa bukan penghalang bagi pertumbuhan batin, tetapi sumber pembelajaran yang tak bisa digantikan. Pikiran yang belajar bukan pikiran yang menjauh dari pengalaman fisik, melainkan yang bersedia menyimak setiap perubahan ritme yang terjadi.
Dalam kesediaan menyimak tersebut, puasa memperoleh bobotnya sebagai latihan kesadaran yang menyeluruh, bukan sekadar ritual tahunan yang berlalu begitu saja.
Author: Gunawan Hatmin, S.Ag.,M.Ag
