Human Initiative Sulawesi Selatan, Menjawab Krisis Kemanusiaan dari Daerah

 

OPINI, KATALISATOR - Tidak semua krisis kemanusiaan di Sulawesi Selatan hadir dengan sirene darurat atau sorotan kamera. Sebagian justru datang secara perlahan dan nyaris tak terdengar: dapur yang tak lagi mengepul, anak-anak yang terpaksa putus sekolah, atau warga pesisir yang setiap musim hidup berdampingan dengan ancaman bencana. Krisis semacam ini kerap luput dari perhatian publik, padahal dampaknya nyata dan berlangsung dalam jangka panjang.

‎Dalam situasi seperti itulah Human Initiative Sulawesi Selatan mengambil peran. Lembaga ini hadir bukan untuk menggantikan negara, melainkan menjangkau ruang-ruang kemanusiaan yang belum sepenuhnya tersentuh oleh kebijakan. Kerja yang dilakukan tidak berhenti pada pemberian bantuan sesaat, tetapi berupaya memastikan masyarakat rentan tidak dibiarkan menghadapi kesulitan seorang diri.

‎Sulawesi Selatan memiliki tantangan kemanusiaan yang khas. Wilayah pesisir, pedalaman, hingga kawasan rawan bencana menghadapi persoalan yang berbeda-beda, namun bermuara pada satu hal yang sama: keterbatasan akses terhadap kebutuhan dasar. Human Initiative Sulawesi Selatan mencoba menjawab kompleksitas tersebut dengan pendekatan yang lebih dekat dan manusiawi mendengarkan kebutuhan warga, lalu meresponsnya sesuai dengan konteks kehidupan yang mereka hadapi.

‎Krisis kemanusiaan juga tidak selalu berbentuk keadaan darurat. Kemiskinan struktural yang berlangsung lama, ketergantungan terhadap bantuan, serta minimnya ruang pemberdayaan justru menjadi persoalan sunyi yang tak kalah berbahaya. Di sinilah kerja Human Initiative menjadi relevan: mengubah bantuan menjadi jalan menuju kemandirian, dan kepedulian menjadi proses yang berkelanjutan.

‎Saya sendiri berkesempatan menjalani program magang di Human Initiative Sulawesi Selatan. Dari pengalaman tersebut, saya memahami bahwa kerja kemanusiaan bukan sekadar angka penerima manfaat atau laporan kegiatan. Ia adalah soal kesabaran, empati, dan keberpihakan. Menyaksikan langsung bagaimana lembaga ini bekerja membuat saya sadar bahwa kemanusiaan tidak selalu hadir dalam skala besar, melainkan dalam konsistensi untuk terus peduli.

‎Yang kerap terlupakan, kerja-kerja kemanusiaan di tingkat daerah jarang mendapat ruang yang memadai dalam perbincangan publik. Padahal, di tengah krisis yang datang silih berganti dan kepercayaan terhadap sistem yang kerap diuji, keberadaan lembaga kemanusiaan lokal justru menjadi penyangga penting bagi masyarakat. Human Initiative Sulawesi Selatan menunjukkan bahwa solidaritas masih hidup, bahkan ketika keadaan tidak sedang baik-baik saja.

‎Pada akhirnya, kemanusiaan tidak hanya soal memberi bantuan, tetapi tentang kehadiran. Hadir untuk mendengar, memahami, dan berjalan bersama masyarakat. Di Sulawesi Selatan, Human Initiative memilih untuk tetap tinggal dan bekerja—saat banyak orang mungkin memilih untuk pergi.


Penulis : Andi Khaerul Awal

Mahasiswa Hubungan Internasional, Universitas Bosowa

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak