Sakralisasi Lapar: Puasa sebagai Normalisasi Penderitaan?

Foto: Rendi Pangalila, Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam Komisariat UNM Gunung Sari (Dok. Pribadi)  


RAMADHAN, KATALISATOR - Kini kita memasuki bulan suci Ramadan. Kota-kota berubah ritmenya: suara azan magrib terasa lebih dinanti, meja-meja makan dipenuhi hidangan berbuka, lini masa media sosial dipadati ucapan reflektif dan potret kebersamaan. Di ruang-ruang publik, kata “sabar”, “ikhlas”, dan “menahan diri” menjadi mantra kolektif. Lapar tidak lagi sekadar sensasi biologis, melainkan pengalaman spiritual yang dirayakan bersama. Dalam suasana inilah pertanyaan itu kembali relevan: ketika lapar disakralkan, apakah ia memuliakan kesadaran atau tanpa sadar menormalisasi penderitaan?

Lapar adalah pengalaman paling purba dalam sejarah manusia. Ia biologis, instingtif, dan tak bisa ditawar. Namun dalam peradaban, lapar tidak selalu dimaknai sebagai kekurangan, ia bisa diangkat menjadi simbol, dimuliakan, bahkan disakralkan. Puasa menghadirkan paradoks: tindakan menahan lapar secara sadar di tengah ketersediaan makanan. Dalam Islam, praktik ini mencapai intensitas kolektifnya pada Ramadan; dalam Kristen dikenal puasa menjelang Prapaskah; dalam Buddhisme dan Hinduisme, asketisme menjadi jalan pendisiplinan diri. Lapar diposisikan bukan sebagai kutukan, melainkan sebagai medium transformasi.

Tetapi konteks kekinian menghadirkan lapisan makna baru. Di tengah kenaikan harga bahan pokok, ketimpangan ekonomi, dan ketidakpastian sosial, pengalaman lapar tidak selalu bersifat pilihan. Ada mereka yang menahan lapar karena ibadah; ada pula yang lapar karena keadaan. Perbedaan ini krusial. Lapar yang dipilih memiliki batas waktu, ia berakhir saat azan magrib. Lapar yang dipaksakan oleh struktur tidak mengenal jadwal berbuka.

Di sinilah kegelisahan etis muncul. Ketika lapar disakralkan, ada risiko bahwa penderitaan menjadi estetis diterima sebagai bagian dari “ujian” tanpa kritik sosial. Jika kita terlalu cepat memuliakan simbol lapar, apakah kita masih cukup peka terhadap realitas kelaparan struktural? Jangan sampai spiritualitas berubah menjadi selimut yang menghangatkan nurani pribadi, tetapi membutakan mata terhadap ketidakadilan kolektif.

Dalam perdebatan filsafat, asketisme sering dipertanyakan. Friedrich Nietzsche melihat moralitas asketik sebagai bentuk glorifikasi penderitaan yang lahir dari penyangkalan terhadap kehidupan. Sebaliknya, dalam tradisi Stoa seperti yang diajarkan Epictetus, pengendalian diri melalui penahanan hasrat justru merupakan jalan menuju kebebasan batin. Dua posisi ini mencerminkan ketegangan mendasar: apakah menahan lapar adalah peneguhan martabat, atau bentuk penjinakan diri terhadap realitas pahit?

Di tengah budaya konsumtif hari ini, puasa sebenarnya memuat kritik yang kuat. Ia menginterupsi logika “selalu ingin lebih”. Ia mengajarkan jeda di tengah percepatan. Ketika dunia memuja kepuasan instan, puasa menegaskan bahwa manusia mampu menunda. Dalam arti ini, lapar yang dipilih menjadi latihan kesadaran bahwa kita tidak sepenuhnya tunduk pada hasrat.

Namun, makna itu hanya hidup jika puasa melampaui formalitas. Ramadan bukan sekadar menahan makan dan minum, tetapi juga momentum memperluas empati. Lapar yang dirasakan seharusnya menajamkan kepekaan terhadap mereka yang tidak memiliki kemewahan untuk memilih. Jika tidak, sakralisasi lapar akan kehilangan rohnya dan berubah menjadi rutinitas musiman.

Maka, memasuki Ramadan hari ini, pertanyaannya bukan apakah kita sanggup menahan lapar, melainkan apakah kita mampu mengolah lapar menjadi kesadaran sosial. Puasa tidak boleh berhenti pada kesalehan individual; ia harus menjelma solidaritas. Sakralisasi tidak boleh mematikan empati; ia harus menggerakkan tanggung jawab.

Pada akhirnya, lapar adalah bahasa tubuh tentang keterbatasan, dan puasa adalah upaya memberi makna pada bahasa itu. Ia bisa menjadi jalan pendewasaan spiritual, atau sekadar legitimasi terhadap penderitaan yang dibiarkan. Semuanya bergantung pada bagaimana kita menghidupinya. Di bulan suci ini, semoga lapar tidak hanya kita rasakan tetapi juga kita pahami, kita refleksikan, dan kita ubah menjadi keberpihakan pada kemanusiaan.

 

Author:   Rendi Pangalila, Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam Komisariat UNM Gunung Sari

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak