RAMADHAN, KATALISATOR - Memulai puasa sering dipahami sebagai momen administratif spiritual yang mendadak. Mulai dari kalender berubah, niat diucapkan, rutinitas makan diatur ulang. Dalam wacana keagamaan populer, hari pertama diposisikan sebagai gerbang titik nol yang memisahkan “sebelum” dan “sesudah.”
Ada asumsi yang relatif mapan bahwa memulai berarti menegaskan komitmen; bahwa awal adalah pernyataan kesungguhan. Narasi ini tidak keliru, tetapi ia cenderung memperlakukan permulaan sebagai formalitas transisi, bukan sebagai peristiwa kesadaran. Akibatnya, hari pertama sering dihayati sebagai kewajiban yang dimulai, bukan sebagai cara baru melihat diri.
Di sisi lain, ada pendekatan yang lebih eksistensial: memulai dipahami bukan sebagai kepatuhan terhadap jadwal religius, melainkan sebagai interupsi terhadap otomatisme hidup. Dalam sudut pandang ini, puasa bukan sekadar menahan makan dan minum, melainkan menunda respons-refleks yang selama ini berjalan tanpa evaluasi. Ketika rasa lapar muncul, ia memanggil kesadaran; ketika kebiasaan ingin segera terpenuhi, ia dipaksa untuk menunggu.
Permulaan, dengan demikian, bukan peristiwa seremonial, tetapi pergeseran struktur pengalaman.
Ketegangan antara dua pendekatan ini terletak pada cara memaknai “niat.” Dalam pendekatan pertama, niat adalah deklarasi internal yang melegitimasi tindakan. Dalam pendekatan kedua, niat adalah keputusan untuk memperlambat diri untuk tidak serta-merta tunduk pada dorongan.
Secara logis, jika puasa hanya dipahami sebagai kepatuhan terhadap kewajiban, maka kualitas kesadarannya bergantung pada konsistensi eksternal: apakah ia dijalankan atau tidak. Namun jika puasa dipahami sebagai latihan memulai secara sadar, maka yang diuji bukan sekadar keberlanjutan praktik, melainkan kedalaman perhatian terhadap setiap momen.
Implikasinya tidak sederhana. Ketika puasa direduksi menjadi rutinitas tahunan, ia berisiko menjadi repetisi tanpa refleksi. Kita mengulangnya seperti mengulang tradisi—tanpa benar-benar memulai apa pun yang baru dalam diri. Tetapi jika setiap permulaan diperlakukan sebagai peristiwa kesadaran, maka puasa menjadi ruang eksperimentasi etis: bagaimana rasanya menunda, bagaimana rasanya tidak segera memenuhi, bagaimana rasanya melihat keinginan tanpa langsung mengiyakannya. Hari pertama bukan sekadar hari awal; ia adalah ujian terhadap kemungkinan untuk keluar dari hidup yang serba otomatis.
Saya cenderung melihat bahwa yang paling rapuh dari puasa justru terletak pada cara kita memulainya. Permulaan yang tergesa-gesa akan melahirkan keberlanjutan yang mekanis. Sebaliknya, permulaan yang disadari yang dihayati sebagai keputusan untuk memperlambat membuka peluang bagi transformasi yang tidak dramatis, tetapi konsisten. Dalam pengertian ini, puasa tidak menawarkan perubahan spektakuler; ia menawarkan jeda. Dan mungkin, dalam dunia yang bergerak terlalu cepat, jeda adalah bentuk perlawanan yang paling sunyi.
Hari pertama, karena itu, bukan tentang seberapa kuat kita menahan lapar, melainkan seberapa jujur kita menyadari apa yang biasanya kita lakukan tanpa berpikir.
Memulai berarti mengakui bahwa hidup selama ini banyak berjalan secara otomatis. Puasa hanya memberi kesempatan untuk melihatnya. Apakah kesempatan itu akan kita gunakan sebagai formalitas atau sebagai momen kesadaran, tetap terbuka dan di sanalah makna permulaan terus dipertaruhkan.
Author: Gunawan Hatmin, S.Ag., M.Ag.
