RAMADHAN, KATALISATOR - Dalam percakapan umum, lapar hampir selalu dipahami sebagai sinyal biologis yang menuntut respons. Lapar menjadi mekanisme tubuh untuk mempertahankan hidup: ketika energi menurun, tubuh memberi tanda; ketika tanda muncul, kita makan.
Dalam parameter ini, lapar bersifat instrumental ia bukan pengalaman yang perlu direnungkan, melainkan kondisi yang perlu segera diatasi. Bahkan dalam praktik puasa, lapar kerap ditempatkan sebagai rintangan yang harus “ditahan” demi memperoleh pahala atau melatih kesabaran. Fokusnya tetap sama: lapar adalah masalah, dan keberhasilan diukur dari kemampuan mengendalikannya.
Namun ada pendekatan lain yang lebih reflektif yakni lapar tidak hanya dilihat sebagai kekurangan fisik, tetapi sebagai peristiwa kesadaran. Ia memperlihatkan ketergantungan, mengungkap rapuhnya tubuh, dan menyingkap betapa cepatnya kita bereaksi terhadap ketidaknyamanan. Dalam sudut pandang ini, lapar bukan musuh yang harus dikalahkan, melainkan medium pembelajaran. Ia mendidik bukan karena ia menyakitkan, tetapi karena ia memaksa kita berhadapan dengan diri yang selama ini terbiasa dipuaskan.
Ketegangan antara dua pendekatan ini menyentuh cara kita memahami pendidikan diri. Jika lapar hanya dipahami sebagai objek pengendalian, maka puasa menjadi latihan disiplin dalam arti sempit ialah kemampuan menahan dorongan. Secara logis, model ini melahirkan subjek yang kuat secara kehendak, tetapi belum tentu reflektif terhadap sumber dorongannya. Sebaliknya, jika lapar dipahami sebagai pengalaman yang perlu dibaca, maka yang dididik bukan sekadar daya tahan, melainkan kesadaran atas hasrat itu sendiri. Kita tidak hanya belajar menahan, tetapi belajar mengenali.
Implikasinya cukup mendasar. Pendidikan diri yang bertumpu pada penahanan semata cenderung menilai keberhasilan secara kuantitatif berapa lama bertahan, seberapa kuat menolak.
Sementara pendidikan diri yang bertumpu pada refleksi menilai kualitas perhatian apa yang saya rasakan ketika lapar muncul, bagaimana pola reaksi saya, sejauh mana saya mampu memberi jarak antara dorongan dan keputusan. Lapar, dalam arti ini, menjadi cermin yang memperlihatkan struktur batin: impulsif atau sabar, panik atau tenang, reaktif atau sadar.
Saya melihat bahwa puasa menawarkan kemungkinan pendidikan yang lebih sunyi dari sekadar pembentukan karakter yang heroik. Ia mengajarkan keterbatasan tanpa perlu dramatisasi. Ketika perut kosong, tubuh berbicara dan ketika kita tidak segera membungkamnya dengan makanan, kita dipaksa mendengar. Mendengar di sini bukan romantisasi penderitaan, melainkan latihan untuk tidak selalu tunduk pada ketergesaan memenuhi. Ada jarak kecil yang tercipta antara rasa dan respons—dan di dalam jarak itulah pendidikan diri berlangsung.
Lapar akhirnya tidak hanya menguji daya tahan, tetapi membongkar ilusi kemandirian. Ia menunjukkan bahwa kita bergantung pada sesuatu di luar diri untuk tetap hidup. Kesadaran ini tidak otomatis menjadikan seseorang lebih baik; ia hanya membuka kemungkinan untuk lebih jujur.
Hari kedua puasa, dengan demikian, bukan tentang seberapa berat rasa yang ditahan, melainkan seberapa jauh kita bersedia belajar dari rasa itu. Pendidikan diri tidak lahir dari kekurangan itu sendiri, tetapi dari cara kita memaknainya dan pemaknaan itu selalu bisa diperdebatkan, diperluas, bahkan digugat kembali.
Author: Gunawan Hatmin, S.Ag.,M.Ag
