Ramadhan Momentum Penyucian Diri, Kini Saatnya Koruptor “Berpuasa” dari Praktik Korupsi

RAMADHAN, KATALISATOR - Bulan suci Ramadhan kembali menjadi momentum refleksi bagi umat Islam setelah menjalani puasa hari pertama sebagai bentuk penyucian diri. Ibadah yang menekankan pengendalian hawa nafsu, kejujuran, dan disiplin tersebut dinilai tidak hanya relevan dalam konteks spiritual, tetapi juga dalam kehidupan sosial dan kebangsaan.

‎Ramadhan mengajarkan umat untuk menahan diri, bukan hanya dari makan dan minum, tetapi juga dari perbuatan yang merugikan orang lain. Nilai inilah yang kemudian memunculkan seruan moral agar semangat puasa turut diterapkan dalam pemberantasan korupsi.

‎Seruan agar “koruptor berpuasa” dimaknai sebagai ajakan etis dan reflektif agar setiap individu yang memegang amanah publik menghentikan praktik korupsi dalam bentuk apa pun. Ajakan tersebut tidak ditujukan kepada pihak tertentu, melainkan sebagai pengingat kolektif bahwa integritas adalah fondasi utama dalam membangun bangsa.

‎Dalam berbagai kesempatan, para pengamat sosial dan hukum kerap menekankan bahwa pemberantasan korupsi tidak cukup hanya melalui pendekatan hukum. Upaya tersebut juga membutuhkan kesadaran moral dan komitmen pribadi. Ramadhan, sebagai bulan pembinaan spiritual, dinilai menjadi waktu yang tepat untuk memperkuat kesadaran tersebut.

‎Puasa melatih kejujuran karena ibadah ini bersifat personal dan tidak selalu terlihat oleh orang lain. Nilai ini relevan bagi siapa pun yang mengemban jabatan atau tanggung jawab publik. Ketika seseorang mampu menahan diri demi ketaatan, maka semestinya ia juga mampu menahan diri dari penyalahgunaan wewenang.

‎Indonesia sendiri telah memiliki perangkat hukum dan lembaga yang berwenang dalam menangani tindak pidana korupsi sesuai ketentuan perundang-undangan. Namun demikian, pembangunan budaya antikorupsi tetap membutuhkan partisipasi aktif masyarakat, termasuk melalui edukasi, literasi, dan kampanye nilai-nilai integritas.

‎Momentum Ramadhan diharapkan menjadi titik balik untuk memperkuat komitmen bersama dalam membangun tata kelola yang bersih dan transparan. Nilai kesederhanaan, empati terhadap sesama, serta tanggung jawab sosial yang ditekankan dalam bulan suci ini menjadi modal penting untuk menciptakan perubahan nyata.

‎Pada akhirnya, puasa bukan sekadar ritual tahunan, melainkan latihan karakter. Jika semangat menahan diri benar-benar diinternalisasi, maka praktik-praktik yang merugikan masyarakat, termasuk korupsi, dapat ditekan melalui kesadaran kolektif.



‎Author : Imam Syafi’i, S.H.
Aktivis Media Sosial dan Konten Kreator Ketua & Founder BW Bersatu Warganet

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak