Katalisator - Merevisi Moral Bangsa

The Six Generation, Pasir Putih di Bibir Pantai

‎STORY, KATALISATOR — Langit terbuka luas, angin laut berhembus pelan, seolah membawa kabar lama yang belum selesai. Di tempat itu, kami angkatan 21 dipertemukan kembali. Bukan hanya oleh waktu, tapi oleh sesuatu yang lebih dalam kenangan, ikatan, dan mungkin juga kegelisahan yang sama.

‎Awalnya canggung, Jeda yang panjang membuat langkah terasa asing. Wajah- wajah yang dulu akrab, kini seolah perlu dikenali ulang. Tapi tawa pertama yang pecah menjadi pembuka segalanya. Seperti kunci yang membuka ruang lama yang sempat terkunci. Cerita mengalir, candaan bersahut-sahutan, dan tanpa sadar, kami kembali menjadi “kami”

‎Di bawah rindang pepohonan dan hamparan pasir putih, kami bercengkrama. Tidak ada sekat, tidak ada jarak. Semua larut dalam suasana yang sederhana, tapi penuh makna. Tawa kami bukan sekadar suara. ia adalah bukti bahwa kami pernah dan masih saling memiliki, dalam cara yang tidak bisa dijelaskan oleh waktu.

‎Kami makan bersama berbagi cerita tentang hidup yang kini berjalan ke arah masing-masing. Ada yang sibuk mengejar cita-cita, ada yang berjuang dalam diam, ada pula yang sedang mencoba bertahan. Tapi di hari itu, semua status itu terdistraksi.

‎Kami hanya manusia yang ingin kembali ke titik awal, kebersamaan.

‎Kami mengabadikan momen. Kamera merekam, tapi sebenarnya bukan itu yang ingin kami simpan. Yang ingin kami tahan adalah waktu yang terus bergerak tanpa kompromi.

‎Namun, di balik tawa yang menghangatkan, ada pandangan yang sesekali teralihkan. Laut yang luas itu, pasir yang putih itu, dan udara yang segar itu semuanya seperti berbicara dalam diam.

‎Dan kami mulai sadar: tanah ini sedang tidak baik-baik saja.

‎Di kejauhan, geliat aktivitas yang disebut “pembangunan” terus bergerak. Atas nama kemajuan, tanah ini dipotong, dibongkar, dan dijual. Atas nama investasi, alam ini perlahan kehilangan dirinya sendiri.

‎Kita diajarkan untuk bangga pada kekayaan daerah. Tapi tidak pernah diajarkan untuk marah ketika kekayaan itu dirampas secara perlahan.

‎Kolaka Utara bukan tanah kosong. Ia hidup. Ia bernapas. Ia menyimpan hutan yang memberi oksigen, laut yang memberi kehidupan, dan tanah yang memberi masa depan. Tapi hari ini, semua itu seperti sedang dilelang dengan harga yang bahkan tidak sebanding dengan apa yang akan hilang.

‎Yang lebih menyakitkan bukan hanya kerusakan itu sendiri, tapi sikap kita terhadapnya.

‎Ada yang tahu, tapi memilih diam

‎Ada yang paham, tapi memilih aman

‎Ada yang melihat, tapi pura-pura buta

‎Dan yang paling berbahay ada yang justru membela kehancuran itu, atas nama jabatan dan kepentingan.

‎Ketika kekuasaan lebih dihormati daripada kebenaran, maka kehancuran hanya tinggal menunggu waktu

‎Kita terlalu sering mendengar kata “pembangunan”, tapi terlalu jarang mendengar kata “perlindungan”. Kita terlalu sibuk menghitung keuntungan, tapi lupa menghitung kehilangan.

‎Apa arti jalan yang mulus, jika hutan telah habis?Apa arti angka pertumbuhan, jika udara tercemari?Apa arti jabatan, jika generasi setelah kita hanya mewarisi kerusakan?

‎Hari itu, di tengah tawa kami, ada kesadaran yang tumbuh perlahan. Bahwa kami bukan hanya generasi yang datang untuk mengenang, tapi juga generasi yang harus berani menjaga.

‎Kami lahir dari tempat yang sama Baitul Maqdis, pondok yang tidak hanya mengajarkan ilmu, tapi juga nilai. Tentang tanggung jawab, tentang keberanian, tentang bersuara terhadap kebatilan

‎Dan hari itu, kami sadar mencintai kampung halaman tidak cukup hanya dengan kembali dan tertawa. Mencintai berarti menjaga. Mencintai berarti berani bersuara. Mencintai berarti menolak ketika sesuatu yang salah dipaksakan menjadi benar.

‎Jika hari ini kita diam, maka esok kita akan kehilangan hak untuk menyesal.

‎Kini kami kembali ke jalan masing-masing. Tapi hari itu meninggalkan sesuatu yang lebih dari sekadar kenangan. Ia meninggalkan kegelisahan. Ia meninggalkan pertanyaan. Ia meninggalkan tanggung jawab.

‎Semoga keakraban ini tetap hidup.Semoga cinta ini tetap terjaga.Dan semoga, ketika kita kembali suatu hari nanti, tanah ini masih bisa kita kenali bukan sebagai cerita tentang keindahan yang hilang, tapi sebagai bukti bahwa kita pernah berjuang untuk menjaganya.

‎Karena ada momen yang tidak akan pernah terlupakan.Dan ada tanah yang tidak boleh kita biarkan dihancurkan bahkan oleh tangan kita sendiri. 

Author: Muh Farhan Ridwan 

Ketua Umum PC IMM Kolaka Utara 

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak