Batu Putih hari ini tidak lagi dikenal karena hijaunya gunung dan tenangnya alam. Yang tersisa kini hanyalah jalan provinsi yang dipenuhi lumpur merah, longsor yang terus terjadi, serta keresahan masyarakat yang perlahan berubah menjadi ketakutan. Jalan poros Malili–Batu Putih yang selama ini menjadi urat nadi aktivitas warga kini rusak, becek, dan sulit dilalui.
Setiap kendaraan yang melintas seperti sedang bertaruh dengan keselamatan di tengah lumpur dan material longsor yang sewaktu-waktu dapat kembali turun dari lereng gunung.
Di wilayah Lelewawo, Kecamatan Batu Putih, masyarakat kini dipaksa menyaksikan bagaimana alam mereka berubah sedikit demi sedikit menjadi luka yang nyata. Gunung yang dahulu berdiri hijau sebagai pelindung kini perlahan kehilangan pepohonan. Lereng yang dulu kuat menahan air hujan kini tidak lagi mampu menjaga tanah tetap berdiri kokoh.
Saat hujan turun, lumpur langsung mengalir deras ke badan jalan tanpa ampun, menutupi akses masyarakat dan membuat aktivitas warga lumpuh.
Longsor yang terjadi hari ini bukan lagi sekadar peringatan alam, tetapi bukti bahwa lingkungan di Batu Putih sudah berada di titik yang mengkhawatirkan. Jalan provinsi yang seharusnya menjadi akses penghubung masyarakat kini berubah menjadi jalur berlumpur yang membahayakan siapa saja yang melintas.
Anak-anak sekolah, para pekerja, pedagang, hingga masyarakat yang ingin berobat harus menghadapi jalan rusak setiap hari hanya untuk menjalankan aktivitas mereka.
Yang paling menyakitkan, kerusakan sebesar ini seolah belum cukup membuat banyak pihak tersadar. Alam sedang berteriak, tetapi suara itu seperti tenggelam oleh kepentingan.
Masyarakat bertanya-tanya, ke mana para penguasa ketika rakyat mulai kesulitan melintas? Ke mana para pemangku kebijakan ketika gunung mulai runtuh dan jalan rakyat perlahan hancur? Sebab yang terlihat hari ini hanyalah masyarakat yang dipaksa bertahan sendiri di tengah kerusakan yang semakin nyata.
Ironisnya, yang paling merasakan penderitaan bukan mereka yang mengambil keuntungan dari kerusakan itu, melainkan masyarakat kecil. Mereka yang setiap hari harus melewati jalan berlumpur, mereka yang hidup di bawah ancaman longsor, dan mereka yang menggantungkan hidup dari alam kini harus menerima kenyataan bahwa lingkungan tempat mereka tumbuh perlahan sedang dihancurkan.
Tidak hanya daratan yang menanggung akibatnya. Lumpur merah dari pegunungan yang longsor kini mulai terbawa hingga ke wilayah pesisir dan mencemari laut. Laut yang selama ini menjadi sumber penghidupan masyarakat kini perlahan ikut berubah keruh.
Nelayan mulai khawatir terhadap hasil laut mereka, sementara masyarakat hanya bisa melihat bagaimana kerusakan di gunung perlahan menyeret seluruh kehidupan di bawahnya ikut hancur.
Batu Putih hari ini seperti sedang dipaksa menangis tanpa suara. Tangisan itu terlihat dari gunung yang gundul, dari jalan provinsi yang rusak parah, dan dari lumpur merah yang terus mengalir setiap hujan turun.
Alam yang dahulu memberi kehidupan kini berubah menjadi ancaman karena keserakahan dan pembiaran yang terus terjadi.
Jika kondisi ini terus dianggap biasa, maka jangan tunggu sampai seluruh jalan putus, jangan tunggu sampai rumah-rumah warga ikut tertimbun longsor, dan jangan tunggu sampai laut benar-benar kehilangan kehidupannya.
Sebab kerusakan alam tidak pernah datang secara tiba-tiba. Ia dimulai dari pembiaran, tumbuh karena kepentingan, lalu pada akhirnya menghancurkan semua yang ada di sekitarnya.
Hari ini Batu Putih sedang menangis. Pertanyaannya, apakah masih ada yang mau mendengar tangisan itu, atau semuanya akan tetap memilih diam sampai alam benar-benar kehilangan nyawanya?
Author: Muh Kahlil Gibran
