Ramadhan di Tanah Garam: Tentang Arebbe dan Rindu yang Pulang


RAMADAN, KATALISATOR - Ramadan di Madura bukan sekadar soal menahan lapar, tapi soal merawat tali dhere (ikatan darah) dan pengabdian. Suasananya dimulai jauh sebelum bedug Maghrib, saat dapur-dapur rumah mulai mengepulkan aroma masakan khas untuk tradisi Arebbe. 

Di sini, kami percaya bahwa berbagi makanan bukan hanya sedekah untuk yang hidup, tapi juga kiriman doa "hadiah" untuk para leluhur yang sudah tiada.

Sebagai seorang yang berkecimpung di dunia hukum, saya melihat tradisi ini bukan sekadar rutinitas, melainkan bentuk restorative justice alami bagi sosial masyarakat.

Melalui hantaran makanan, gesekan-gesekan antar tetangga yang mungkin terjadi selama setahun seolah luruh dalam wadah berkat. Hukum adat dan agama menyatu dalam harmoni yang damai.

Jika kalian datang ke kampung kami di malam-malam ganjil, kalian akan melihat sisi magis dari Malem Salekoran. Di beberapa desa, masih ada tradisi menyalakan luk-culuk (lampu minyak/obor) di depan rumah untuk menyambut datangnya Lailatul Qadar. Cahayanya yang temaram seolah menjadi penunjuk jalan bagi keberkahan untuk mampir ke setiap pintu rumah warga.

Suasana semakin hangat saat memasuki sepuluh malam terakhir. Bukan hanya masjid yang penuh, tapi juga pelabuhan dan terminal. 

Itulah momen Toron. Bagi kami, sejauh apa pun kaki melangkah mencari nafkah, Ramadhan adalah kompas yang selalu mengarahkan wajah kami kembali ke Suramadu atau pelabuhan Kamal. Karena bagi orang Madura, ibadah yang paling sempurna adalah saat bisa bersujud di sajadah yang sama dengan orang tua.

Ramadhan mengajarkan kami bahwa hidup ini seperti topak dalam tradisi Tellasan Topak—rumit anyamannya, tapi lembut dan menguatkan di dalamnya. 

Melalui tulisan ini, saya ingin mengajak pembaca melihat bahwa di balik kerasnya karang dan panasnya garam, hati orang Madura selalu lunak jika sudah bicara soal iman dan persaudaraan. Mator sakalangkong salam settong dere.


Author: Imam Syafi'i, S.H.
Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak