RAMADAN, KATALISATOR - Ramadan tahun 1447 Hijriah, yang
jatuh pada tahun 2026, hadir di tengah dunia yang bergerak semakin cepat. Di
saat kecerdasan buatan dan otomatisasi mendominasi keseharian, ada satu hal
yang tidak dapat digantikan oleh mesin: empati.
Bulan suci kali ini bukan sekadar tentang pergeseran jam makan atau menahan dahaga di bawah terik matahari. Ia adalah panggilan darurat untuk menghidupkan kembali solidaritas sosial yang mulai mendingin akibat sekat-sekat digital dan ekonomi.
Menghitung Lapar, Menimbang Rasa
Secara biologis, rasa lapar yang kita rasakan saat berpuasa menjadi cara alamiah untuk menyamakan frekuensi kita dengan mereka yang kurang beruntung. Namun, solidaritas sosial di tahun 2026 menuntut lebih dari sekadar “merasakan”.
Solidaritas hari ini adalah tentang aksi nyata yang berkelanjutan. Jika selama ini kita terbiasa dengan sedekah impulsif, inilah saatnya beralih pada pemberdayaan. Kemanusiaan di bulan Ramadan harus mampu menjawab tantangan zaman, antara lain:
Keadilan Akses: Memastikan kegembiraan hari raya juga dirasakan oleh pekerja informal dan keluarga prasejahtera di sekitar kita.
Kedermawanan Cerdas: Memanfaatkan teknologi untuk memangkas jalur birokrasi bantuan, sehingga bantuan sampai ke tangan yang tepat tanpa mengurangi martabat penerimanya.
Membasuh Luka Sosial
Dunia hari ini sering kali terasa terkotak-kotak. Ramadan 2026 harus menjadi “lem” yang merekatkan kembali retakan sosial tersebut. Solidaritas tidak mengenal batas ideologi maupun status.
Kemanusiaan yang kita praktikkan di meja-meja buka puasa harus bersifat inklusif. Saat kita berbagi makanan, kita sebenarnya sedang berbagi harapan—memberi tahu dunia bahwa di tengah ketidakpastian ekonomi global, komunitas yang saling menjaga adalah benteng pertahanan terkuat yang kita miliki.
Ibadah yang paling utama di saat terjadi krisis atau kesulitan sosial bukanlah sekadar memperbanyak sujud secara privat, melainkan memastikan tidak ada tetangga yang tidur dalam keadaan lapar.
Menjadikan Kebaikan sebagai Gaya Hidup
Tantangan terbesar solidaritas di bulan Ramadan adalah menjaganya agar tidak layu ketika Idul Fitri tiba. Jangan sampai kedermawanan kita hanya menjadi fenomena musiman yang mengikuti kalender.
Ramadan 2026 adalah laboratorium, satu bulan untuk melatih otot-otot kepedulian agar cukup kuat mengangkat beban kemanusiaan di sebelas bulan berikutnya.
Solidaritas sosial adalah napas dari iman. Di tahun 2026 ini, mari menjadikan setiap butir kurma yang kita bagikan dan setiap rupiah yang kita zakatkan sebagai investasi bagi peradaban yang lebih memanusiakan manusia.
Sebab pada akhirnya, yang akan diingat bukanlah seberapa banyak harta yang kita kumpulkan, melainkan seberapa banyak beban orang lain yang berhasil kita ringankan.
Selamat merayakan kemanusiaan di bulan suci.
Author: Wahyu Arif