Yang Tidak Sempat Dimulai

Gunamwan Hatmin, Akademisi alumni pascasarjana di Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar (Dokumentasi Pribadi)

OPINI, KATALISATOR - Peristiwa meninggalnya seorang siswa sekolah dasar di Nusa Tenggara Timur beberapa waktu lalu sulit saya baca sebagai sekadar berita duka. Ia memang dapat dijelaskan melalui banyak kerangka kemiskinan, tekanan sosial, atau persoalan psikologis anak namun penjelasan yang terlalu cepat sering membuat peristiwa kehilangan kedalaman maknanya. Yang tersisa hanya kesimpulan, bagaimana sebuah kehidupan yang baru berada di awal dapat sampai pada titik tanpa kemungkinan kembali.

Sejak lama pendidikan dipercaya sebagai jalan keluar dari keterbatasan. Di banyak keluarga, terutama di daerah seperti NTT, sekolah bukan hanya tempat belajar, tetapi harapan bahwa kehidupan anak akan bergerak lebih jauh dari kondisi orang tuanya. Saya tumbuh dengan pemahaman itu. Sekolah dipandang sebagai permulaan. Karena itu, ketika justru dari ruang tersebut muncul sebuah tragedi, yang terasa bukan hanya kehilangan seorang anak, melainkan runtuhnya makna tentang awal itu sendiri.

Bagi orang dewasa, kekurangan alat sekolah mungkin terlihat sebagai persoalan kecil. Namun bagi seorang anak, pengalaman tidak memiliki apa yang dimiliki teman-temannya dapat berubah menjadi perasaan terpisah dari lingkungan. Anak belum memiliki bahasa yang cukup untuk menjelaskan tekanan semacam itu. Ia hanya merasakan jarak. Dalam situasi tertentu, jarak tersebut dapat terasa lebih besar daripada kemampuan untuk menanggungnya. Di titik ini, tragedi tidak lahir dari satu sebab tunggal, melainkan dari banyak hal kecil yang tidak pernah dianggap mendesak.

Saya tidak melihat peristiwa ini sebagai kegagalan satu pihak tertentu. Kebijakan pendidikan tetap berjalan, bantuan sosial tetap ada, dan sekolah tetap menjalankan fungsinya. Namun kehidupan tidak selalu bergerak mengikuti desain kebijakan. Ia berlangsung dalam pengalaman sehari-hari yang sering tidak tercatat: rasa malu, ketakutan dianggap berbeda, atau kesulitan meminta bantuan. Ketika pengalaman ini tidak terlihat, perlindungan yang ada menjadi terasa jauh dari kehidupan yang dijalani anak.

Sebagai orang yang berasal dari Nusa Tenggara Timur, peristiwa ini terasa dekat bukan karena saya memiliki jawaban, tetapi karena saya mengenali konteksnya. Saya memahami bagaimana pendidikan ditempatkan sebagai harapan besar, sekaligus bagaimana keterbatasan ekonomi dapat hadir secara diam-diam di dalamnya. Kedekatan ini membuat saya melihat tragedi tersebut bukan sebagai kejadian yang sepenuhnya asing, melainkan sebagai sesuatu yang mungkin telah lama berada di sekitar kita tanpa benar-benar disadari.

Dalam pandangan Islam, kehidupan manusia adalah amanah yang harus dijaga bersama. Saya memahaminya bukan sebagai seruan moral, tetapi sebagai cara melihat bahwa nilai suatu sistem pada akhirnya diukur dari kemampuannya menjaga kehidupan yang paling rentan. Ketika seorang anak kehilangan kemungkinan untuk melanjutkan hidupnya, dan sejauh mana lingkungan sosial mampu membaca tanda-tanda kerentanan sebelum terlambat.

“Yang Tidak Sempat Dimulai” bagi saya bukan hanya merujuk pada kehidupan yang berakhir terlalu cepat. Tapi menunjuk pada kemungkinan yang tidak pernah benar-benar memperoleh ruang untuk tumbuh. Seorang anak pergi pada saat yang seharusnya menjadi awal dari banyak hal belajar, bermimpi, dan perlahan memahami dunia.

Saya tidak menulis ini untuk memberikan kesimpulan. Barangkali yang tersisa hanyalah kesadaran bahwa tragedi sosial sering tidak datang dalam bentuk peristiwa besar. Ia hadir pelan, melalui hal-hal yang dianggap sepele, sampai suatu hari kita menyadari bahwa sebuah kehidupan telah berhenti bahkan sebelum sempat benar-benar dimulai.

 

Penulis : Gunawan Hatmin

(Akademisi alumni pascasarjana di Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar)

 

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak