Makassar, Katalisator — Civitas akademika Kimia menggelar kegiatan Kajian Islam dan Silaturahmi (KIMDAS) yang dirangkaikan dengan buka puasa bersama pada Rabu, (5/3/2026) di Science Building Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA).
Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara Himpunan Mahasiswa Kimia Universitas Hasanuddin, Himpunan Kimia Indonesia (HKI), dan Himpunan Mahasiswa Pascasarjana Kimia. Kegiatan tersebut bertujuan mempererat silaturahmi sekaligus menghadirkan ruang refleksi spiritual bagi civitas akademika di bulan suci Ramadan.
Acara yang dimulai pukul 16.00 WITA ini diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Suci Aulia yang menghadirkan suasana khidmat bagi para peserta yang hadir.
Selanjutnya, Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Kimia, Ghilang Budiman Kallo, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia menilai KIMDAS menjadi momentum yang baik untuk mempererat kebersamaan di lingkungan civitas akademika kimia.
“Kegiatan seperti ini menjadi ruang yang sangat baik untuk memperkuat silaturahmi antara mahasiswa, dosen, dan seluruh keluarga besar kimia. Kami berharap kegiatan ini dapat terus dilaksanakan dan menjadi wadah untuk mempererat kebersamaan di lingkungan akademik,” ujarnya.
Apresiasi serupa juga disampaikan oleh Wakil Ketua Himpunan Mahasiswa Pascasarjana Kimia, Fairuz Erlangga Nadwi. Ia menekankan pentingnya kolaborasi antar elemen di lingkungan departemen dalam mendukung kegiatan akademik maupun kemahasiswaan.
“Kami sangat mengapresiasi terselenggaranya kegiatan ini. Semoga melalui kegiatan seperti ini, kolaborasi antara mahasiswa sarjana, pascasarjana, serta para dosen dapat terus terjalin dengan baik,” tuturnya.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan tausiyah yang disampaikan oleh Dr. Syahruddin Kasim. Dalam kajiannya, ia membahas fenomena Fear of Missing Out (FOMO) yang banyak dialami generasi muda di era digital.
Ia mengingatkan pentingnya menjaga fokus dalam menuntut ilmu dan tidak mudah terpengaruh oleh tekanan sosial yang muncul dari lingkungan maupun media digital.
“Di era digital saat ini, banyak orang merasa tertinggal karena melihat pencapaian orang lain di media sosial. Padahal setiap orang memiliki waktunya masing-masing. Jangan sampai rasa FOMO membuat kita kehilangan fokus terhadap tujuan kita sebagai penuntut ilmu,” ungkapnya.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga menekankan bahwa ilmu kimia memiliki peran luas dalam kehidupan manusia.
“Ilmu kimia tidak hanya hadir di laboratorium, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari makanan yang kita konsumsi, obat yang kita gunakan, hingga berbagai teknologi yang berkembang saat ini. Karena itu, mempelajari kimia dengan sungguh-sungguh berarti mempersiapkan diri untuk memberikan manfaat bagi masyarakat,” tambahnya.
Setelah sesi tausiyah, kegiatan dilanjutkan dengan sepatah kata dari Ketua Departemen Kimia Program Studi S1, Fauziah, yang menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara penguatan spiritual dan pengembangan ilmu pengetahuan di lingkungan akademik.
“Kegiatan seperti ini sangat penting untuk mempererat silaturahmi di antara mahasiswa, dosen, dan seluruh civitas akademika. Ramadan menjadi momentum yang tepat untuk memperkuat nilai spiritual sekaligus menumbuhkan semangat kebersamaan,” tuturnya.
Hal senada juga disampaikan oleh Ketua Departemen Program Studi S2, Prof. Indah Raya. Ia mengapresiasi kolaborasi berbagai pihak dalam menyukseskan kegiatan tersebut.
“Kebersamaan dalam kegiatan seperti ini menunjukkan bahwa lingkungan akademik tidak hanya menjadi tempat menuntut ilmu, tetapi juga tempat membangun nilai kebersamaan dan kekeluargaan,” ujarnya.
Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan buka puasa bersama yang diikuti oleh mahasiswa, dosen, serta seluruh peserta yang hadir.
Sebelum berbuka, moderator kegiatan turut mengingatkan tata cara berbuka puasa yang dianjurkan dalam Islam.
“Sebelum berbuka, perlu diketahui bahwa masih banyak orang yang keliru dalam urutan berbuka. Rasulullah ﷺ biasa berbuka sebelum salat dengan ruthab (kurma basah). Jika tidak ada ruthab, beliau berbuka dengan tamr (kurma kering), dan jika tidak ada tamr, beliau meminum seteguk air,” ujarnya.
Suasana hangat dan penuh kebersamaan terasa dalam momen tersebut, memperkuat ukhuwah di lingkungan civitas akademika kimia. Melalui kegiatan KIMDAS ini, diharapkan tidak hanya mempererat hubungan antar civitas akademika, tetapi juga menumbuhkan kesadaran akan pentingnya menuntut ilmu serta memaknai peran ilmu kimia dalam berbagai aspek kehidupan.
Reporter : Idil Akbar Ansar

