Dalam aksi tersebut, massa tampak membawa berbagai poster tuntutan sambil menyampaikan orasi secara bergantian menggunakan pengeras suara.
Tajering, selaku Pasukan Komrad sekaligus penanggung jawab aksi, mengungkapkan bahwa kegiatan tersebut akan dilaksanakan secara rutin setiap hari Sabtu sebagai ruang konsolidasi dan penyampaian aspirasi masyarakat.
“Rutinan ini sudah yang ketiga kalinya dilakukan dengan tuntutan utama mengadili Prabowo-Gibran dan melawan pelanggaran HAM,” ujar Tajering dalam orasinya.
Pantauan di lokasi menunjukkan aksi berlangsung damai dan tertib. Tidak terlihat adanya pembakaran ban, penahanan kendaraan, maupun penutupan jalan yang dapat mengganggu arus lalu lintas.
Tajering menegaskan bahwa aksi rutin tersebut merupakan bentuk pengingat kepada pemerintah bahwa masih banyak persoalan di Indonesia yang belum terselesaikan.
“Kami tegaskan bahwa aksi rutinan ini dilaksanakan sebagai bentuk pengingat bahwa di Indonesia masih banyak permasalahan yang belum terselesaikan,” tegasnya.
Ia menyebut sejumlah isu yang akan terus mereka suarakan, mulai dari dugaan pelanggaran HAM, persoalan pendidikan, isu perburuhan, kerusakan lingkungan, hingga dinamika politik internasional.
Menurut Tajering, beberapa poin utama yang diangkat dalam aksi kali ini di antaranya kasus Andrie Yunus, kasus Bertrand di Makassar, persoalan lingkungan, program Makan Bergizi Gratis (MBG), hingga keterlibatan Indonesia dalam isu BoP.
“Kami sangat merasa terpukul atas kasus Andrie Yunus dalam tragedi 12 Maret 2026 lalu, kasus Bertrand di Makassar, kerusakan lingkungan, keracunan siswa imbas konsumsi MBG, hingga keterlibatan Indonesia di dalam BoP,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Tajering juga meminta Presiden Prabowo Subianto beserta jajaran pemerintah untuk segera menyelesaikan berbagai persoalan nasional yang dinilai semakin kompleks.
“Jika tuntutan kami tidak dipenuhi, tentunya kepercayaan kami terhadap rezim Prabowo-Gibran akan menurun drastis. Jika kepercayaan itu sudah hilang, artinya Prabowo-Gibran harus di...? Silakan jawab sendiri,” tuturnya.
Di akhir aksi, Tajering mengajak seluruh elemen masyarakat sipil untuk turut terlibat dalam aksi rutin tersebut tanpa melakukan tindakan anarkistis.
“Untuk warga sipil, ayo sama-sama berisik tanpa adanya kerusuhan yang dapat menghentikan napas juang kita. Senjata paling ampuh adalah tetap berisik,” pungkasnya.
Aksi “Rutinan Makassar” Kembali Digelar, Massa Serukan Adili Prabowo-Gibran dan Lawan Pelanggaran HAM
MAKASSAR, KATALISATOR — Sejumlah massa yang mengatasnamakan “Rutinan Makassar” menggelar aksi unjuk rasa di kawasan taman fly over Kota Makassar, Sabtu (09/05/2026).
