![]() |
| Foto Penulis: Andi Khaerul Awal (Dokumentasi Pribadi) |
KATALISATOR, OPINI- Bangsa ini sesungguhnya tidak kekurangan sumber daya, tidak pula miskin nilai. Namun, yang kerap kita saksikan adalah krisis kepercayaan, krisis keteladanan, dan krisis empati. Korupsi yang mengakar, polarisasi sosial yang tajam, serta lunturnya etika publik menjadi tanda bahwa bangsa ini tengah mengalami luka kolektif. Dalam kondisi seperti ini, yang dibutuhkan bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan rehabilitasi bangsa.
Merehabilitasi bangsa berarti mengakui bahwa ada yang salah dalam cara kita mengelola kekuasaan, pendidikan, dan relasi sosial. Rehabilitasi bukan hukuman, melainkan proses penyembuhan. Ia menuntut keberanian untuk bercermin, mengoreksi diri, dan membangun ulang fondasi moral bersama. Tanpa kesadaran ini, pembangunan hanya akan menjadi kosmetik tampak megah di luar, rapuh di dalam.
Pendidikan seharusnya menjadi garda terdepan rehabilitasi bangsa. Namun pendidikan yang hanya mengejar angka, peringkat, dan ijazah justru melahirkan generasi yang cerdas secara kognitif tetapi miskin integritas. Sekolah dan kampus mesti kembali menjadi ruang pembentukan karakter, kejujuran, tanggung jawab, dan kepedulian sosial. Tanpa itu, ilmu pengetahuan bisa berubah menjadi alat pembenaran bagi keserakahan.
Selain pendidikan, keteladanan pemimpin memegang peran krusial. Rakyat tidak hanya mendengar pidato, tetapi meniru perilaku. Ketika elite melanggar hukum tanpa rasa malu, pesan yang sampai ke publik adalah bahwa etika bisa dinegosiasikan. Rehabilitasi bangsa menuntut pemimpin yang berani hidup sederhana, transparan, dan konsisten antara kata dan tindakan.
Di tingkat masyarakat, rehabilitasi bangsa juga berarti memulihkan empati. Media sosial sering kali menjadikan perbedaan sebagai bahan caci maki, bukan dialog. Kita mudah marah, mudah menghakimi, dan enggan mendengar. Padahal bangsa yang sehat adalah bangsa yang mampu berbeda tanpa saling meniadakan. Memulihkan ruang dialog yang beradab adalah bagian penting dari proses penyembuhan nasional.
Merehabilitasi bangsa bukan pekerjaan instan, apalagi tugas satu kelompok saja. Ia adalah kerja panjang lintas generasi. Dimulai dari hal-hal kecil, jujur dalam keseharian, kritis namun santun, serta berani menolak ketidakadilan meski tampak sepele. Dari situlah bangsa yang terluka perlahan bisa pulih.
Author: Andi Khaerul Awal
(Merupakan Formatur Himpunan Mahasiswa Islam Komisariat Sospol Universitas Bosowa)
