*Oleh Akbar Al-Fatih (Demisioner Ketua Umum HMI MPO Cabang Makassar)
KATALISATOR - Saya kaget, beberapa hari ini, foto saya beredar sebagai kandidat Ketua Badko HMI Sulselbar. Padahal saya ini, tidak pernah membuat pernyataan apapun terkait Musda. Kendatipun beberapa pihak sudah mendukung, sama sekali tidak membuat saya ingin mencalonkan diri.
Melalui tulisan ini, saya berterima kasih kepada mereka yang menginginkan saya maju dan telah menyampaikan dukungan. Barangkali, penjelasan berikut ini bisa memahamkan kita semua.
Jauh sebelum flayer itu ada dan tersebar, beberapa orang sudah berkomunikasi ke saya soal Musda. Saat mereka menyampaikan dukungannya, saya tegas, tanpa basa basi, menye menye, menyatakan tidak. Tiap kali ditanya soal pencalonan Musda, saya terus meyakinkan mereka, bahwa masih banyak pilihan terbaik selain saya.
Saya sebutlah nama nama yang bisa mereka pertimbangkan. Kalau pilih ini, bisa jadi akan begini, kalau pilih itu, bisa jadi akan begitu. Dibanding maju, saya justru mempromosikan kandidat lain. Beberapa orang juga menghubungi dan menyatakan siap mendukung, tetapi saya meminta mereka untuk mengusung kandidat asal cabangnya sendiri atau mendukung kandidat yang punya kemampuan diatas rata rata.
Lagi pula, saya sudah merasa cukup dengan segala tanggung jawab saat ini. Ingin fokus bertani serta mengurus rumah tangga kecil semat. Setiap penolakan yang saya utarakan, mungkin membuat mereka kecewa. Tetapi seperti inilah kenyataannya. Setiap kali mereka membahas soal ini dan arahnya membujuk saya, selalu saya alihkan topik bahasan. Jika mereka adalah junior, saya akan kuliti kinerja mereka mengurus HMI. Biasanya kalau sudah begini, mereka langsung lesu tak bersemangat.
Beberapa nama yang disebut ingin maju dalam pemilihan Ketua Badko, juga menghubungi saya. Ada yang memulai dengan basa basi, ada juga terlalu to the point. Saya tahu tujuan mereka menghubungi saya, ingin memastikan bahwa saya tidak maju, sekaligus meminta dukungan saya.
Saya itu bingung, kenapa mereka meminta dukungan saya, sementara yang memiliki suara sah dalam pemilihan Musda, adalah peserta cabang HMI. Saat ini, saya tidak menjabat apa apa di HMI. Saya juga benci mengintervensi pengurus HMI, terutama perihal pengambilan keputusan. Saya hanya menyarankan, memberikan pandangan, itupun kalau diminta. Jadi teruntuk para calon, lakukanlah pendekatan ke pemilik suara sah, bukan pada saya.
Yang Juga Penting
Dari pada terus menerus mendorong saya bertarung, mari kita ulas yang jauh lebih penting. Agar kalian pengurus cabang tidak salah pilih Ketua Badko.
Dalam setiap forum pemilihan di HMI, refleksi itu juga penting. Ayo kita coba mengingat, sejauh mana kinerja pengurus Badko sebelumnya. Dapat nilai A atau E. Ada kemajuan atau justru kemunduran.
Apakah visi misi dan program kerja berjalan, serta apa yang perlu ditingkatkan. Nah, hal hal semacam ini, lebih substansi, lebih penting, justru tidak dibahas dan ini kenyataan loh. Kita itu cuma ramai di pembahasan calonnya. Tidak heran, setelah musda, aktivitas HMI kayak mati suri, lebih sepi dari kuburan. Kalian pengurus cabang, jangan banyak protes kalau kondisi HMI di Sulselbar stagnan terus, tidak ada kemajuan sama sekali. Toh, kalian juga yang memilih Ketua Badko. Dan pada saat musda, kalian begitu mudahnya di ‘pattol’.
Alih alih mencalonkan diri, saya just malah mendorong pengurus cabang untuk berpikir lebih kritis dan hati hati. Ini penting, jangan sampai pengurus cabang sebagai pemilik sah suara, ditipu oleh kandidat, yang setelah terpilih, menelantarkan cabang cabang. Agar tak salah pilih, ada beberapa poin kriteria kandidat yang ideal versi saya.
Pertama, mengenai ibadahnya. Kalau kalian tidak pernah, minimal melihat kandidat salat berjamaah di masjid, maka sebaiknya dipertimbangkan untuk dipilih. Salat merupakan kewajiban dia sebagai muslim. Kalau salat saja ditinggal, bagaimana dengan cabang cabang nantinya. Apakah nanti ada kandidat yang saleh ibadah, tetapi tetap menelantarkan cabang cabang, maka itu lain persoalannya. Kandidat sepertinya memang tidak serius mengurusi HMI dan seharusnya dievaluasi oleh PB HMI. Masalah selanjutnya adalah, entah kenapa, penjatuhan sanksi, sangat jarang sekali dilakukan beberapa tahun belakangan ini. Lahirnya pengurus yang mengurusi HMI sesempatnya mereka, mengurus HMI pada bagian waktu tertentu saja. Mengurus HMI bukan karena dorongan pengabdian dan perbaikan.
Kedua, kandidat harus didengar membaca ayat Al Qur'an. Saya pernah mendapati beberapa forum, bahkan sekelas kongres, dimana pengujian baca ayat Al-Qur'an kandidat begitu memalukan. Bayangkan, kandidat ketua PB hanya membaca surah Al Baqarah ayat 1 sampai 5 lalu surah Al ikhlas, Al Falaq dan Annas. Saya tidak bisa membayangkan jika kejadian ini terjadi di forum forum HMI lainnya seperti Musda. Kalau memang kandidat bisa baca ayat dengan baik dan benar, ayatnya mesti diacak. Jangan ayat hafalan hehehe.
Terakhir, pilihlah kandidat yang punya rekam jejak yang baik saat mengurus HMI. Khusus kriteria ini, saya tak perlu menjelaskannya panjang lebar. Cukup kalian rasakan saja, bagaimana kondisi HMI saat dia menjadi pengurus. Majukah atau hancur.
Selamat bermusda ria.
Tags
HMI MPO
