RAMADHAN, KATALISATOR - Ramadan datang seperti embun yang jatuh perlahan di pagi hari–hening, lembut, namun menghidupkan.
Ia menyapa jiwa yang letih oleh rutinitas harian, serta membasuh hati yang telah lama terabaikan oleh hiruk-pikuk dunia. Dibulan suci ini, iman tidak hanya bersemayam dalam doa-doa yang lirih, tetapi juga bergetar dalam setiap denyut kepedulian.
Dalam diamnya puasa, tersimpan percakapan sunyi antara hamba dan Tuhannya; percakapan yang melahirkan kesadaran bahwa hidup bukan hanya tentang diri sendiri.
Ketika perut mulai terasa kosong dan tenggorokan kering, disitulah hati mulai belajar memahami. Rasa lapar yang sebelumnya mungkin tak pernah benar-benar disadari, kini menjadi jembatan empati bagi mereka yang setiap hari hidup dalam kekurangan.
Di sinilah harmoni iman dan kemanusiaan menemukan maknanya–sebuah keseimbangan indah antara ketaatan manusia kepada Tuhan dan kasih sayang kepada sesama.
Saya melihat di sudut-sudut masjid yang diterangi cahaya lampu sederhana membuat harmoni itu tampak nyata.
Orang-orang yang menyiapkan takjil tanpa bertanya kepada siapa itu ditujukan. Tangan-tangan yang mungkin tak berkelimpahan harta tetap terulur untuk memberi. Senyum-senyum sederhana diikuti candaan kecil menjadi penawar lelah setelah seharian berpuasa.
Dalam kebersamaannya, sekat sosial pun runtuh; kaya dan miskin duduk bersisian, menyatukan rasa syukur dalam satu hamparan yang sama. Di sana, iman menemukan wajahnya yang paling indah: kemanusiaan.
Lebih dari itu, dalam keheningan sahur dan kekhusyukan shalat tarawih; kita belajar bahwa ibadah sejati tidak hanya berhenti pada ritual. Iman yang tumbuh di dada seakan mencari jalan untuk mewujud dalam tindakan yang nyata. Ia menjelma menjadi tangan yang ringan memberi, senyum yang tulus menyapa, dan langkah yang sigap membantu.
Sehingga, menjadikan momentum ini sebagai ruang refleksi agar kita sebagai manusia memahami bahwa kedekatan kepada Tuhan harus beriringan dengan kepekaan terhadap penderitaan sosial. Maka, semakin kuat iman seseorang–semakin lembut pula hatinya terhadap sesama.
Ramadan adalah simfoni yang mempertemukan langit dan bumi. Ia mengajarkan bahwa ibadah bukan hanya tentang hubungan vertikal yang khusyuk, melainkan juga tentang hubungan horizontal yang penuh kasih.
Iman tanpa kemanusiaan akan terasa hampa, sementara kemanusiaan tanpa iman akan kehilangan arah. Keduanya dipertemukan dalam satu irama yang menyentuh jiwa–mengajak manusia menjadi lebih dekat kepada Tuhan dan menjadi berarti bagi sesama.
Dan ketika ramadan usai, harmoni itu diharapkan tetap tinggal, hidup dalam setiap langkah dan keputusan–menjadikan kehidupan sebagai cahaya yang pernah menyinari hati.
Author : Wardatul Jannah
