Memahami Tanda Pisah (—): Simbol Kecil yang Mengubah Cara Kita Menulis


JAKARTA, KATALISATOR - Dalam dunia tulis-menulis, perhatian kita sering tertuju pada kata, gagasan, dan argumen. Namun ada unsur kecil yang sering luput diperhatikan, padahal memiliki pengaruh besar terhadap cara pembaca memahami teks: tanda baca. Salah satu tanda yang kerap muncul dalam paragraf modern adalah simbol (—) atau tanda pisah panjang. Bagi sebagian orang, ia terlihat asing atau dianggap sekadar variasi gaya. Padahal, penggunaannya memiliki fungsi yang jelas dalam struktur bahasa.


‎Dalam praktik penulisan, tanda ini sering digunakan untuk memperjelas informasi tambahan tanpa memutus alur kalimat. Misalnya, ketika seorang penulis ingin menambahkan catatan penting di tengah gagasan utama, tanda pisah bisa menjadi alat yang efektif. Ia bekerja seperti tanda kurung atau koma, tetapi menghasilkan kesan yang lebih tegas dan retoris. Oleh karena itu, tanda ini banyak ditemukan dalam esai, artikel opini, dan karya sastra, di mana ritme dan penekanan menjadi bagian penting dari penyampaian pesan.

‎Selain itu, tanda pisah juga berfungsi menciptakan efek dramatis atau kontras ide. Penulis dapat memanfaatkannya untuk menyoroti pertentangan, penegasan, atau refleksi. Dalam konteks naratif, tanda ini bahkan dapat menggambarkan perubahan pikiran mendadak, sehingga pembaca merasakan aliran kesadaran penulis secara langsung. Dengan kata lain, tanda pisah bukan sekadar alat teknis, melainkan juga perangkat retoris.

‎Meski demikian, penggunaannya tidak selalu cocok dalam semua jenis tulisan. Dalam penulisan akademik formal, seperti skripsi atau jurnal ilmiah, tanda pisah panjang jarang digunakan. Struktur ilmiah biasanya mengutamakan stabilitas dan formalitas dengan mengandalkan koma, titik koma, atau tanda kurung. Karena itu, penulis perlu memahami konteks sebelum memutuskan memakai tanda ini. Apa yang efektif dalam artikel populer belum tentu tepat dalam karya ilmiah.

‎Memahami tanda pisah berarti memahami bahwa bahasa bukan hanya tentang memilih kata, tetapi juga mengatur cara gagasan disampaikan. Tanda baca mengatur napas kalimat, membentuk ritme, dan memandu pembaca menafsirkan makna. Simbol kecil seperti (—) mengingatkan kita bahwa detail teknis dalam bahasa dapat memengaruhi kekuatan komunikasi secara keseluruhan.

‎Pada akhirnya, penguasaan tanda baca bukan hanya persoalan tata bahasa, melainkan bagian dari literasi menulis. Semakin penulis memahami fungsi setiap tanda, semakin ia mampu mengendalikan gaya dan dampak tulisannya. Dan di antara sekian banyak tanda baca, tanda pisah panjang adalah contoh bagaimana simbol sederhana dapat membuka ruang ekspresi yang lebih luas dalam bahasa.

‎Tanda (—) dikenal sebagai tanda pisah panjang. Ia berbeda dari tanda hubung (-) yang biasa dipakai untuk menggabungkan kata seperti anak-anak, serta berbeda dari tanda pisah pendek (–) yang digunakan untuk rentang angka seperti 2010–2020. Tanda pisah panjang berfungsi menciptakan jeda yang lebih kuat di dalam kalimat, biasanya untuk menyisipkan penjelasan tambahan, memberi penekanan, atau menunjukkan perubahan arah pikiran penulis.

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak