Hari 3 — Menahan Diri di Tengah Dunia yang Serba Cepat

RAMADHAN, KATALISATOR - Diskursus tentang dunia modern hampir selalu diawali dengan satu asumsi dominan, kita hidup dalam akselerasi. Kecepatan menjadi ukuran efisiensi; respons yang tangkas dipuji sebagai kecakapan; keterlambatan dianggap kegagalan adaptasi.

Dalam lanskap seperti ini, kemampuan menunda sering diterjemahkan sebagai ketidakmampuan bersaing. Bahkan dalam praktik keberagamaan, ada kecenderungan untuk menyesuaikan diri dengan ritme tersebut—ibadah dipadatkan, refleksi disingkat, makna diringkas menjadi kutipan singkat yang mudah dibagikan. Kecepatan menjadi norma tak tertulis yang jarang dipersoalkan.

Namun, puasa menghadirkan sebuah kontradiksi yang tenang: ia justru melatih penundaan. Menahan diri berarti tidak segera merespons dorongan, tidak serta-merta memenuhi kebutuhan, tidak terburu-buru memuaskan keinginan. 

Dalam konteks dunia yang serba cepat, tindakan ini tampak anomali. Ia tidak produktif dalam logika pasar, tidak spektakuler dalam logika media, dan tidak instan dalam logika konsumsi. Tetapi justru di situlah letak ketegangannya: apakah kecepatan adalah keniscayaan, atau hanya kebiasaan yang dilegitimasi?

Jika kecepatan dipahami sebagai syarat kemajuan, maka menahan diri tampak seperti kemunduran. Secara logis, masyarakat yang mengagungkan percepatan akan menilai segala bentuk perlambatan sebagai hambatan. 

Akan tetapi, ketika semua dorongan segera dipenuhi dan semua respons dituntut instan, subjek perlahan kehilangan jarak reflektif. Ia menjadi makhluk yang reaktif cepat, tetapi tidak selalu sadar. Di titik ini, menahan diri tidak lagi sekadar praktik religius, melainkan strategi menjaga ruang batin agar tidak sepenuhnya dikolonisasi oleh ritme eksternal.

Ketegangan konseptualnya terletak pada pertanyaan sederhana: apakah hidup yang cepat selalu berarti hidup yang utuh? Kecepatan memang memperbanyak capaian, tetapi tidak otomatis memperdalam pengalaman. 

Dalam dunia yang memuja respons segera, kemampuan untuk berkata “nanti” menjadi tindakan yang hampir subversif. Menunda bukan berarti menolak dunia, melainkan menegosiasikan ritmenya. Puasa, dengan demikian, melatih kita untuk tidak sepenuhnya tunduk pada tekanan waktu yang diproduksi oleh sistem sosial.

Saya melihat bahwa menahan diri di tengah akselerasi bukanlah upaya romantik untuk kembali ke masa lalu yang lambat. Ia lebih tepat dipahami sebagai upaya mempertahankan otonomi batin. Ketika dorongan datang baik biologis maupun sosial dan kita memilih untuk tidak langsung bereaksi, kita sedang menciptakan ruang kecil bagi pertimbangan. 

Ruang itu mungkin sempit, tetapi ia menentukan kualitas keputusan. Tanpa ruang tersebut, hidup berubah menjadi rangkaian reaksi berantai yang tidak pernah benar-benar kita pilih.

Hari ketiga puasa mengingatkan bahwa perlambatan tidak identik dengan ketertinggalan. Ia bisa menjadi cara untuk memulihkan kedalaman dalam dunia yang terobsesi pada kecepatan. 

Menahan diri bukan sekadar menunda makan atau minum, melainkan menunda kepastian bahwa setiap dorongan harus segera dipenuhi. Dalam jeda itulah, kemungkinan untuk berpikir pelan tetap terjaga dan mungkin, justru di sana, kebebasan menemukan bentuknya yang paling sunyi.


Author: Gunawan Hatmin, S.Ag., M.Ag
Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak