Katalisator - Merevisi Moral Bangsa

“Nyanyian Sunyi dari Tanah Luka”: Sebuah Buku tentang Gaza, Sebagian Besar Royalti Disumbangkan

JAKARTA, KATALISATOR Penulis A. Pelayati, S.Ag resmi meluncurkan buku puisi berjudul "Nyanyian Sunyi dari Tanah Luka" yang diterbitkan oleh Guepedia pada Maret 2026. Buku ini tidak hanya menjadi karya sastra reflektif tentang kemanusiaan, tetapi juga membawa misi solidaritas: sebagian besar royalti dari penjualan buku ini akan disumbangkan untuk membantu masyarakat di Gaza, Palestina.

‎Buku "Nyanyian Sunyi dari Tanah Luka" merupakan kumpulan puisi yang merekam luka kemanusiaan di tengah konflik berkepanjangan di Palestina, khususnya di Gaza. Dalam karya ini, penulis menempatkan anak-anak sebagai pusat narasi, mereka yang kehilangan rumah, sekolah, keluarga, dan masa kecil akibat perang.

‎Puisi-puisi dalam buku ini menggambarkan berbagai fragmen kehidupan di tengah konflik: mainan anak-anak yang tertimbun reruntuhan bangunan, senja yang terhenti oleh dentuman ledakan, hingga pelukan seorang ibu di tengah suara sirene yang tak pernah benar-benar berhenti.

‎Penulis A. Pelayati mengatakan bahwa buku ini lahir dari kegelisahan kemanusiaan yang ia rasakan saat melihat penderitaan warga sipil, terutama anak-anak di Gaza.

‎“Buku ini bukan sekadar karya sastra, tetapi juga bentuk empati dan solidaritas. Saya ingin puisi-puisi ini menjadi suara bagi mereka yang sering kali tidak terdengar,” ujar A. Pelayati dalam keterangannya.

‎Ia menambahkan bahwa keputusan untuk menyumbangkan sebagian besar royalti dari buku ini merupakan bagian dari komitmen moral agar karya sastra tidak berhenti pada kata-kata, tetapi juga menghadirkan aksi nyata bagi kemanusiaan.

‎“Melalui buku ini, saya berharap pembaca tidak hanya merasakan luka yang diceritakan dalam puisi, tetapi juga ikut mengambil bagian dalam solidaritas kemanusiaan. Sebagian besar royalti buku ini nantinya akan disalurkan untuk membantu saudara-saudara kita di Gaza,” katanya.

‎Buku ini tidak ditulis dalam bahasa politik atau propaganda, melainkan dalam bahasa empati. Setiap puisi menjadi fragmen suara: tangis yang tak sempat tumbuh, doa-doa kecil yang melayang di antara asap perang, serta mimpi-mimpi anak-anak yang dipaksa dewasa sebelum waktunya.

‎Melalui "Nyanyian Sunyi dari Tanah Luka" , penulis mengajak pembaca untuk tidak sekadar mengetahui tragedi kemanusiaan dari layar atau berita, tetapi benar-benar merasakannya dan membuka ruang solidaritas di dalam hati.

DAPATKAN BUKUNYA DI SINI

LINK PEMBELIAN BUKU

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak