OPINI, KATALISATOR - Realitas yang terjadi di Kolaka Utara hari ini seharusnya menjadi alarm bagi kita semua terutama mahasiswa, pemuda, dan seluruh lapisan masyarakat. Di tengah maraknya aktivitas pertambangan yang terus berlangsung, kita dihadapkan pada sebuah kenyataan yang tidak bisa lagi diabaikan: kerusakan lingkungan semakin nyata, sementara dampak kesejahteraan yang dijanjikan belum sepenuhnya dirasakan.
Mahasiswa sebagai agen perubahan memiliki tanggung jawab moral untuk tidak diam. Kampus bukan hanya ruang belajar, tetapi juga tempat lahirnya kesadaran kritis terhadap persoalan sosial dan lingkungan. Ketika tanah dikeruk, hutan hilang, dan sumber air tercemar, maka yang dipertaruhkan bukan hanya kondisi hari ini, tetapi juga masa depan generasi berikutnya.
Pemuda dan masyarakat pun tidak boleh menjadi penonton. Ketimpangan antara eksploitasi sumber daya alam dan manfaat yang diterima harus menjadi bahan refleksi bersama. Apakah kita akan terus membiarkan kerusakan terjadi tanpa memastikan adanya keadilan bagi daerah dan masyarakat lokal?
Narasi ini bukan untuk menyalahkan, tetapi untuk menyadarkan. Bahwa pembangunan yang sejati tidak hanya tentang seberapa besar sumber daya diambil, melainkan seberapa besar manfaat yang kembali kepada rakyat tanpa mengorbankan lingkungan. Kesadaran kolektif harus mulai dibangun dari diskusi kecil, konsolidasi gerakan, hingga keberanian menyuarakan kebenaran.
“Dari mahasiswa untuk semua” adalah panggilan terbuka. Sebuah ajakan untuk bergerak bersama, berpikir kritis, dan mengambil peran dalam menjaga keseimbangan antara pembangunan dan kelestarian lingkungan. Kolaka Utara tidak hanya membutuhkan pembangunan, tetapi juga kepedulian, keberanian, dan tanggung jawab dari kita semua
Author: Muh Farhan Ridwan
Ketua Umum PC IMM Kolaka Utara
