Di Balik Tuduhan “Cair Lagi”

Sejumlah mahasiswa menggelar aksi demonstrasi dengan membawa poster dan menyampaikan orasi sebagai bentuk kritik terhadap kebijakan yang dinilai tidak berpihak pada rakyat. Aksi tersebut mencerminkan ekspresi kegelisahan dan suara kritis mahasiswa. (Ilustrasi/AI)

KATALISATOR, ESSAY - Sebagai mahasiswa, kita sebenarnya sudah sangat akrab dengan yang namanya demonstrasi. Aksi turun ke jalan, orasi, membawa poster, dan menyuarakan tuntutan, itu bukan hal baru. 

Dari dulu, demonstrasi selalu jadi salah satu cara mahasiswa merespons keadaan ketika ada sesuatu yang dirasa tidak beres.

‎Sejarah sudah membuktikan itu. Tahun 1998 misalnya, mahasiswa di berbagai daerah turun ke jalan karena kebijakan pemerintah saat itu sudah jauh dari kepentingan rakyat. Krisis ekonomi, pembungkaman, dan ketidakadilan terjadi di mana-mana. 

Karena saluran resmi tidak lagi dipercaya, mahasiswa memilih jalan demonstrasi. Ujungnya, Presiden Soeharto mundur. Peristiwa ini menunjukkan bahwa demonstrasi muncul karena masalah, bukan sekadar keinginan untuk ribut.

‎Karena itu, demonstrasi sebenarnya adalah sesuatu yang wajar dalam kehidupan mahasiswa. Mahasiswa bukan hanya dituntut pintar di kelas, tapi juga peka melihat kondisi sosial di sekitarnya. Ketika ada kebijakan yang merugikan masyarakat, suara mahasiswa seharusnya ikut terdengar.

‎Masalahnya, di era sekarang, demonstrasi sering dianggap tidak penting. Banyak yang menganggap aksi unjuk rasa cuma buang-buang waktu. Di sisi lain, muncul istilah mahasiswa “kupu-kupu”, kuliah lalu pulang, tanpa mau tahu soal persoalan di luar kampus. Akibatnya, demonstrasi dianggap sebagai urusan segelintir orang saja.

‎Padahal faktanya, masih banyak mahasiswa yang peduli. Di Makassar misalnya, hampir setiap hari ada aksi demonstrasi. Karena itulah kota ini sering disebut sebagai kota demonstran. Julukan ini lahir karena masih ada mahasiswa yang mau bersuara ketika melihat ketidakadilan.

‎Sayangnya, setiap ada aksi, hampir selalu muncul komentar yang sama. Banyak orang langsung menuduh bahwa demonstrasi itu pesanan. Kalimat seperti “cair lagi” dengan mudah dilontarkan, bahkan oleh sesama mahasiswa. Seolah-olah semua yang turun ke jalan pasti karena uang.

‎Cara berpikir seperti ini keliru. Ketika orang sibuk menuduh, mereka lupa membahas apa sebenarnya yang dituntut. Isu yang diperjuangkan tidak lagi penting, yang dipersoalkan justru soal dugaan bayaran. Akhirnya, masalah yang seharusnya dibicarakan malah tenggelam.

‎Memang, harus diakui, pernah ada aksi yang disusupi kepentingan tertentu. Tapi itu tidak bisa dijadikan alasan untuk menganggap semua demonstrasi seperti itu. Menggeneralisasi hanya akan mematikan kepekaan dan membuat kita semakin apatis.

‎Demonstrasi bukanlah tujuan akhir. Ia hanya alat untuk menyampaikan suara ketika cara lain tidak didengar. Bisa saja aksi itu berhasil, bisa juga gagal. Tapi selama masih ada kebijakan yang tidak berpihak pada rakyat, demonstrasi akan selalu punya alasan untuk dilakukan.

‎Pada akhirnya, yang perlu kita jaga bukanlah prasangka, tapi kesadaran. Menyederhanakan setiap aksi sebagai “pesanan” hanya akan membuat mahasiswa kehilangan perannya. Sejarah sudah menunjukkan, perubahan tidak datang dari sikap diam, tapi dari keberanian untuk bersuara meski sering disalahpahami.

Author: Anonim

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak