Jakarta, Katalisator — Sepanjang 2026, langit Indonesia akan dihiasi sejumlah fenomena astronomi, salah satunya gerhana bulan total yang dikenal luas sebagai Blood Moon. Pada fase ini, bulan tampak berwarna kemerahan akibat pembiasan cahaya matahari oleh atmosfer Bumi sebelum mencapai permukaan bulan.
Fenomena tersebut terjadi ketika Matahari, Bumi, dan Bulan berada pada satu garis lurus, sehingga bayangan Bumi sepenuhnya menutupi Bulan. Warna merah gelap muncul karena cahaya dengan panjang gelombang biru tersaring atmosfer, sementara cahaya merah dibiaskan dan jatuh ke Bulan.
Bagi komunitas astronomi dan pengamat langit, gerhana bulan total menjadi momentum penting untuk observasi ilmiah sekaligus edukasi publik. Sejumlah peneliti memanfaatkan peristiwa ini untuk mempelajari komposisi atmosfer Bumi melalui analisis spektrum cahaya yang dipantulkan Bulan.
Di sisi lain, fenomena Blood Moon juga kerap dikaitkan dengan simbolisme budaya di berbagai wilayah. Namun para ilmuwan menegaskan bahwa gerhana bulan merupakan peristiwa alam yang dapat dijelaskan secara ilmiah dan tidak berkaitan dengan pertanda tertentu.
Pemerintah daerah, lembaga pendidikan, dan komunitas astronomi biasanya menggelar kegiatan pengamatan bersama untuk memfasilitasi masyarakat menyaksikan gerhana dengan peralatan optik yang memadai. Kegiatan tersebut dinilai efektif meningkatkan minat generasi muda terhadap sains dan teknologi antariksa.
Para pemerhati lingkungan juga mengingatkan pentingnya menjaga langit malam dari polusi cahaya. Minimnya cahaya buatan dinilai menjadi faktor penting agar fenomena astronomi seperti gerhana bulan dapat diamati secara optimal oleh masyarakat luas.
Gerhana bulan total pada 2026 diharapkan tidak hanya menjadi tontonan langit, tetapi juga sarana pembelajaran tentang posisi manusia di tengah alam semesta serta pentingnya ilmu pengetahuan dalam memahami fenomena alam.
