Krisis Identitas : Dosa Sistemik di Atas Penderitaan Sumatera dan Aceh

Potret Ishak B. Lakim (Dokumentasi Pribadi)

OPINI, KATALISATOR - Di tengah gemuruh modernitas yang tak kenal lelah, manusia modern bangun setiap pagi dengan pertanyaan yang menggerogoti  "Siapa saya sebenarnya?" Krisis identitas ini bukan sekadar kebingungan sementara, melainkan kehancuran makna diri yang lahir dari ketidakmampuan membedakan yang sakral dari profan. 

Transendental dari temporal hegemoni positivisme telah mereduksi manusia menjadi entitas empiris tubuh yang haus konsumsi dan jiwa yang terbela sehingga memicu pemberontakan melawan Tuhan. 

Akibatnya, identitas runtuh menjadi puing-puing individualisme kosong.

Terinspirasi Nurcholish Madjid, bayangkan umat yang terperangkap dalam kungkungan tradisi, mengidentifikasi Islam hanya dengan simbol-simbol usang yang tak lagi bernyawa. 

Modernitas datang bagai badai hegemonik, membawa positivisme dan antroposentrisme yang mengikis dimensi rohani manusia hingga tinggal kulit empiris semata. 

Dampaknya dahsyat eksploitasi berlebihan yang melahirkan kehancuran tiga lapis psikologis, ekologi, dan sosial.

Tragedi di Sumatera akhir 2025. Banjir bandang dan longsor di Sumatera Barat dan Aceh menewaskan ratusan jiwa, mengubur ribuan rumah, serta merampas tanah adat demi logam hitam dan lahan tandus. Ini bukan sekadar bencana alam, melainkan kombinasi faktor alam dan ulah manusia rakus. 

Eksploitasi tambang berlebihan menjadi biang keladi, mencerminkan krisis identitas yang lebih dalam manusia modern yang lupa peran sebagai khalifah, justru menjadi perusak bumi.

Yang lebih ironis, elit politik tampil acuh. Saat rakyat Sumatera dan Aceh tenggelam dalam penderitaan, prioritas mereka tertuju pada polemik politik, korupsi izin tambang, dan legitimasi pribadi. Sikap serakah ini menabur dosa sistemik di atas kehancuran tiga lapis tersebut. 

Seperti ditegaskan Murtadha Mutahhari, hegemoni modernitas bukan hanya intelektual, tapi juga moral merusak jiwa kolektif umat. 

Kita diajak merangkai ulang jati diri, bukan sebagai korban modernitas, tapi sebagai khalifah yang sadar. 

Hanya dengan memulihkan dimensi sakral Islam seperti yang diusung Nurcholish Madjid kita bisa melawan eksploitasi ini.

Korupsi izin tambang, dan legitimasi pribadi ketimbang keselamatan rakyat. inilah sifat seraka manusia elit politik menabur dosa sistemik di atas penderitaan Sumatera dan Aceh.


Penulis: Ishak B. Lakim

(Demisioner Sekretaris Umum HMI Cabang Makassar 2024-2025)

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak