![]() |
| Akbar Pelayati, Alumni Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, Relawan Akal Sehat di Tenggara Reading House, Aktivis HMI MPO Cabang Makassar (dok. pribadi). |
Pertanyaan paling mendasar adalah: di mana negara ketika anak itu membutuhkan perlindungan?
Pemerintah kerap membanggakan alokasi anggaran pendidikan yang mencapai ratusan triliun rupiah setiap tahun. Angka itu berulang kali disampaikan dalam pidato, laporan resmi, dan forum publik sebagai bukti komitmen terhadap masa depan bangsa.
Namun tragedi ini membuktikan satu hal yang menyakitkan: besarnya anggaran tidak selalu berarti hadirnya negara bagi mereka yang paling membutuhkan.
Apa arti ratusan triliun rupiah itu jika masih ada anak yang tidak mampu membeli alat tulis? Apa arti berbagai program bantuan jika masih ada anak yang merasa sendirian menghadapi kemiskinan? Anggaran besar kehilangan maknanya ketika tidak mampu menjangkau mereka yang paling rentan.
Ini bukan sekadar kelalaian administratif. Ini adalah kegagalan moral.
Negara seharusnya menjadi pelindung terakhir bagi warganya yang lemah. Namun dalam kasus ini, negara justru tampak jauh, birokratis, dan tidak peka.
Sistem yang dibangun seolah lebih sibuk mengurus laporan daripada memastikan tidak ada anak yang tertinggal.
Lebih ironis lagi, pejabat sering berbicara tentang “Indonesia Emas” dan masa depan generasi muda, tetapi abai terhadap kenyataan bahwa masih ada anak yang bahkan tidak memiliki alat tulis untuk belajar. Retorika tentang masa depan terdengar hampa ketika realitas hari ini dipenuhi ketidakadilan.
Tragedi ini menunjukkan bahwa persoalan terbesar bukan pada kurangnya anggaran, tetapi pada kurangnya kepedulian dan keseriusan dalam memastikan keadilan distribusi.
Negara tidak boleh hanya hadir dalam bentuk angka dan program, tetapi harus hadir secara nyata dalam kehidupan warganya.
Seorang anak telah pergi. Ia tidak pergi karena ia malas belajar. Ia tidak pergi karena ia tidak memiliki mimpi. Ia pergi karena sistem gagal memastikan ia bisa tetap bermimpi.
Ini adalah kegagalan yang tidak bisa ditutupi dengan pidato, klarifikasi, atau janji evaluasi. Ini adalah pengingat bahwa di balik setiap statistik, ada manusia. Ada anak-anak yang membutuhkan perhatian nyata, bukan sekadar kebijakan di atas kertas.
Jika negara benar-benar serius tentang masa depan bangsa, maka tidak boleh ada lagi anak yang merasa hidupnya terlalu berat hanya karena tidak memiliki buku dan pulpen.
Karena negara yang kuat bukanlah negara yang paling banyak berbicara, tetapi negara yang tidak membiarkan anak-anaknya berjuang sendirian.
Editor: Eka Wijaya Kusuma
