Katalisator - Merevisi Moral Bangsa

Manifesto Kedaulatan Kognitif: Melawan Instanisme di Era AI

WACANA, KATALISTOR - Kemajuan teknologi AI saat ini tidak boleh direspon secara impulsif dan simultan, melainkan melalui pengkajian analisis dampak jangka panjang serta proyeksi masa depan terhadap stabilitas kognitif, moral, dan etis manusia. 


‎Perguruan tinggi, sebagai wadah peradaban dan laboratorium riset suatu bangsa, harus menekan dan membatasi penggunaan AI, bukannya melakukan legitimasi urgensi dan normalisasi yang membabi buta.

‎Bahaya laten dari AI adalah terciptanya masyarakat yang konsumtif secara intelektual, yang pada akhirnya akan mengalami kemandekan berpikir secara massal. Fenomena ini diperkuat oleh riset tentang "Google Effect" atau amnesia digital, di mana otak manusia cenderung kehilangan kemampuan retensi memori jangka panjang karena terbiasa melakukan cognitive offloading atau mendelegasikan tugas berpikir ke alat eksternal (Sparrow, dkk., 2011). 

‎Jika suatu saat sistem ini di-shutdown, manusia akan mengalami shock kognitif dalam menghadapi persoalan kompleks, seperti bencana ekonomi, politik, hingga peperangan. 

‎Bangsa yang terbiasa "disuntik" oleh dopamin AI akan mengalami pendangkalan saraf (neuroplasticity negatif) yang membuat mereka gagal melakukan pemikiran mendalam (deep thinking), sehingga mudah dikuasai oleh bangsa yang paling minim menggunakan AI tetapi terlatih menggunakan pikirannya sendiri secara independen (Carr, 2010).

‎Kita sedang mempertaruhkan hakikat kemanusiaan. Jika kemudahan ini menjadi kebiasaan, manusia bukan lagi menjadi makhluk yang belajar sepanjang masa, melainkan beralih menjadi makhluk instan kognitif dengan defisit moral yang sangat berbahaya bagi kelangsungan peradaban. 

‎Secara empiris, ketergantungan pada teknologi digital telah terbukti menurunkan tingkat empati secara drastis, menciptakan masyarakat yang kering secara afeksi namun haus akan gratifikasi instan (Konrath, dkk., 2011).

‎Kita mungkin sulit untuk melawan arus AI secara total, tetapi setidaknya kita tidak boleh kalah karena kebodohan. Manusia harus tetap berdiri sebagai pengontrol alat, bukan justru memberikan kendali dan kedaulatan berpikirnya kepada mesin-mesin. 

‎Karena pengetahuan tanpa proses perjuangan intelektual adalah pengetahuan yang tidak memiliki akar dan tanpa nilai moral.


Referensi
‎Carr, N. (2010). The Shallows: What the Internet Is Doing to Our Brains. W. W. Norton & Company. (Membahas pendangkalan kognitif dan perubahan struktur saraf akibat informasi instan).
‎Konrath, S. H., O'Brien, E. H., & Hsing, C. (2011). Changes in Dispositional Empathy in American College Students Over Time: A Meta-Analysis. Personality and Social Psychology Review. (Data mengenai penurunan empati kolektif akibat mediasi teknologi).
‎Sparrow, B., Liu, J., & Wegner, D. M. (2011). Google Effects on Memory: Cognitive Consequences of Having Information at Our Fingertips. Science. (Studi tentang amnesia digital dan ketergantungan memori luar).
‎Ward, A. F., dkk. (2017). Brain Drain: The Mere Presence of One’s Own Smartphone Reduces Available Cognitive Capacity. Journal of the Association for Consumer Research. (Data tentang penurunan kapasitas kognitif akibat ketergantungan pada perangkat pintar).



‎Author: Muhammad Furkan, S.Pd

Merupakan mahasiswa pascasarjana di Universitas Negeri Makassar, memiliki minat pada bidang geografi, filsafat dan agama.

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak