Di Balik Target Lulus Cepat: Matinya Nalar Kritis Mahasiswa

Foto Penulis 
Author: Muh Farhan Ridwan 
Ketua Umum PC IMM Kolaka Utara 

KATALISATOR, OPINI — Hari ini, kami menulis bukan sebagai individu, tetapi sebagai kegelisahan kolektif yang lama terpendam. Sebuah catatan yang lahir dari ruang-ruang kelas, lorong kampus, hingga diskusi yang semakin kehilangan nyawanya.

Kami menyaksikan satu kenyataan yang sulit disangkal: mahasiswa perlahan kehilangan daya kritiknya. Bukan karena tidak mampu berpikir, tetapi karena terbiasa diam. Budaya bertanya digantikan oleh budaya menerima. Ruang dialektika berubah menjadi ruang formalitas akademik semata.

Kampus yang seharusnya menjadi laboratorium pemikiran, justru semakin sering melahirkan kepatuhan tanpa kesadaran.

Lebih mengkhawatirkan lagi, mahasiswa hari ini mulai kehilangan karakternya. Gelar bachelor degree yang kelak disandang, terancam menjadi sekadar simbol administratif—bukan representasi intelektual yang berani, tajam, dan berpihak. Kita menghasilkan sarjana, tetapi belum tentu melahirkan intelektual.

Di sisi lain, birokrasi kampus sering kali tanpa sadar turut memelihara situasi ini. Sistem yang terlalu menekankan kepatuhan, minim ruang kritik, dan alergi terhadap perbedaan pendapat, secara perlahan membentuk mahasiswa yang jinak—bukan kritis. Mahasiswa didorong untuk lulus cepat, tetapi tidak didorong untuk berpikir dalam.

Kami tidak menolak sistem. Kami justru menuntut sistem yang lebih hidup.

Mahasiswa bukan sekadar objek pendidikan, tetapi subjek perubahan. Ketika suara mahasiswa dianggap gangguan, bukan masukan, maka saat itulah kampus kehilangan ruhnya sebagai ruang kebebasan akademik.

Catatan ini bukan sekadar kritik, tetapi peringatan.

Jika hari ini mahasiswa kehilangan daya kritiknya, maka esok kita akan menghadapi generasi yang tidak lagi mampu mempertanyakan ketidakadilan. Jika hari ini karakter mahasiswa runtuh, maka masa depan hanya akan diisi oleh mereka yang terdidik, tetapi tidak tercerahkan.

Kami percaya, kampus masih bisa menjadi ruang yang memanusiakan—bukan sekadar meluluskan.

Namun itu hanya mungkin jika birokrasi membuka ruang, dan mahasiswa kembali menemukan keberaniannya.

Karena pada akhirnya, sejarah tidak ditulis oleh mereka yang diam.
Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak